logo-mini

Cerita Khalid (2) : Struggle!

Share

Cerita Khalid (2) : Struggle!

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh!

Halo apa kabar? Semoga sehat wal’afiat dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT aamiin ya robbal alamin.

Bedewe alhamdulillah akhirnyah selesai juga post ini. Walaupun jarak post yang sebelumnya Cerita Khalid (1) jauh sama post Cerita Khalid 2, semoga tetap menebar manfaat dan kebaikan ya aamiin ya robbal alamin \(´▽`)/

Oh iya beberapa kata di blog ini aku hubungkan langsung dengan artikel mengenai arti kata tersebut. Kata tersebut ku tandai dengan bold dan jika kursor diarahkan pada kata tersebut, maka ia akan mempersilakan kita mengklik kata tersebut untuk melihat artikel mengenai arti/makna nya. Semoga membantu kebingungan akan istilah yang aku jelasin di sini ya  \(´▽`)/

*malah makin bingung ya? Hiks maafkan T_T

*baru berlaku di post Cerita Khalid (1)

Bedewe kerasa ada yang beda ga sih sama domain aku? (>▾<)

Hehe no more blogspot ye *udahdotcomceritanya  ~(‾▿‾~) ~(‾▿‾)~ (~‾▿‾)~Lanjut eaa~

Sudah baca Cerita Khalid (1) : Persalinan belum? Gimana?

Tujuan ku sebenarnya untuk sharing supaya teman-teman bisa ambil baik nya dan buang buruknya, sekaligus untuk bekal kelak persalinan nanti. Jadi, kalau sampai ada yang merasa…

‘Ah serem banget, gak mau deh gue ngelahirin!’

Atau

‘Mau SC aja, serem banget lahiran normal?!’

(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) ( ˘̩̩̩••˘̩̩̩) (ʃ⌣̩̩_⌣̩̩ƪ)

Huhuhu jangan begituu, sesungguhnya aku bukan mau nakut-nakutin kalian kok. Sungguh lah. Aku menceritakannya secara detail agar sebelum melahirkan mental dan semangat kita akan semakin kuat!!! Aamiin ^^

Oke, lanjut~

Bagi yang mau baca blog ini, aku saranin baca postingan blog ku dari awal sih …………..

Eh engga maksudnya aku saranin baca tulisan blog sebelumnya Cerita Khalid (1) : Persalinan dulu supaya nyambung hehehe *Promosi domain baru biar banyak visitor nya HEHEHE  (ʃ⌣ƪ)

Okay, jadi aku dan Khalid udah diperbolehkan pulang di hari Minggu pagi, 19 Februari 2017 dari RS Ummi Bogor. Huaaaa seneng bangeeeet. Udah ada yang mau jenguk ke RS waktu itu, tapi karena udah diperbolehin pulang yowes aku sama Uda bilang untuk ke rumah aja rather than ke RS.

Sampailah di rumah…

Dan taraaaa~

 

Banyak kan? Duh banyak om om sama tante tante yang jengukin, seneng deh Khalid. (ʃƪ♥ﻬ♥)

Makasih ya Om, Tante udah jenguk Khalid, sampai ngasih kado segala duh jadi enak..

Maksudnya maaf jadi ngerpeotin huhuhu

*Mamaknya kegirangan banyak yg dateng*  #plakkk (” `з´ )_,/”(>_<‘!)

Oke, jadi di hari pertama banyak banget yang datang.

Untung ada Papa, Mama, Uda yang nerima tamunya, karena aku sibuk bolak-balik ke kamar melayani Khalid yang selalu laper *youknowwhatimean*

Malam pun datang…

Jeng jeng jeng jeng….

Khalid menangis setiap 5-15 menit kutaruh di kasurnya. Padahal sudah minum ASIX (ASI Eksklusif) tapi kok nangis terus? (ʃ⌣̩̩_⌣̩̩ƪ)

“Huhuhu kok nangis terus ? Apa ASIX nya kurang ya?”

Itu pikirku kala itu. Dan ternyata memang itu lah kekhawatiran banyak buibuk yang menyusui buah hatinya secara langsung. Karena Ibu tidak bisa melihat berapa ml yang sudah diminum oleh bayi? Apakah cukup? Keluar ga sih ASI nya?

Dan pertanyaan buibu lainnya.

Apalagi buibu muda macam kaya aku T_T

Untungnya Uda dan Mama nenangin aku..

“Asal dia glek glek glek, pup 6-12 kali, BAK 6-12 kali dan jernih, masih wajar kok. Pokoknya kasih ASI terus jangan samapia dehidrasi! Jangan sampai kuning! Anak mama ga ada yang kuning.” Mama said.

“Gapapa Ibuk, Khalidnya emang lagi mau tumbuh, jadi minum terus. Ibuk makan minum yang banyak ya, kita usahain Insya Allah ASIX untuk Khalid ya Buuk.” Uda said.

Yap, support alias dukungan dari orang-orang sekitar emang PENTING BANGET! ♥♥♥

Kenapa sampai aku Caps Lock? Ya karena emang penting banget! Sebelum melahirkan aja banyak banget yang bikin down, semacam perkataan:

“Eh perut nya kaya lagi ga hamil ya?”

“Bayinya yang di perut kecil ya? Padahal ibu nya gendut banget”

“Makanya makan yang bergizi dong, masa hamil tapi ga keliatan? Kaya temen gue dong naik 20 kg. Kaya artis A tuh perutnya gede banget gitu keliatan hamilnya.”

…..

…..

…..

(˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)ง (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩) (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)

Saran aku sih jangan pernah bahas masalah besar or kecilnya perut seorang Ibu yang lagi hamil ya, kalau cuma “pengen nanya” or “ngasi pendapat” doang. Kecuali ya emang ada masukan, I mean it will so much better to say:

“Waah ayo banyakin makannya Bumil, biar sehat terus Ibu dan debaynya dan makin besar perutnya”

Rather than those statements yang sudah kusebutkan di atas.

APALAGI bandingin bumil sama temen atau orang lain atau saudara, atau artis atau selebgram lain yang lagi hamil. Saran aku sih jangan ya. Bumil agak sensitif bro and sist.

*Atau gue doang nih ah kayanya yang sensitif dan baperan kayanya wkwkwkwk (ʃ⌣ƪ) *

Pokoknya dukungan itu penting banget!

Makanya buat buibuk yang sedang hamil kusarankan positif terussss deh pikirannya. HARUS lebih positif dari sebelum sebelumnya yaa biar bahagia Ibu dan debay nya. Biarkan saa mereka berkata apa! Ambil baiknya buang buruknya! *saran dari orang yang menelan semua baik dan buruknya alhasil sempet kzl dan down banget karena dengerin pendapat yang ga mendukung*

Yap, support alias dukungan dari orang-orang sekitar emang PENTING BANGET! (•̀_•́)ง

Senin, 20 Feb 2017

Di malam hingga dini hari itu, aku cukup kebingungan karena Khalid yang terus menerus menangis dan aku harus tau apakah dia lapar atau popoknya basah atau apa. Dan aku berjaga bergiliran dengan Uda *kalau bahasa gaulnya, jadi suami siaga*. Pokoknya jangan sampai Aku or Uda sama sama tidur dan ga denger tangisan Khalid. Alhasil mata kita cekung karena selama di rumah sakit sampai hari pertama pulang dari rumah sakit kita kurang tidur HAHAHA but we do love it! ♥♥♥

* padahal kalau di kelas ga kuadh melek buat 2 SKS (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)

Lucunya adalah ketika Khalid menangis menjelang Subuh *Which is serumah sudah pada bangun* satu per satu datang ke kamar kami mempertanyakan, “Ada apa? Gapapa kan? Kok nangis nya kenceng gitu?” dari mulai Mama yang masih setengah sadar, Papa yang masih pakai sarung karena baru selesai solat Subuh. Haahaha mungkin cemas sama pasangan baru yang baru ngurusin dede bayi dikirain nangis karena diapain, padahal cuman gegara Khalid lagi dibersihin dan diganti celananya hihihihi.

*Untungnya aku udah belajar singkat cara bersihin pup dan pakai bedong di RS sama mama dan bidan hehehe* ~(‾▿‾~) ~(‾▿‾)~ (~‾▿‾)~

Pagi pun datang.

Saat aku dan Uda siap untuk menjemur Khalid, ternyata di luar mendung tak ada panas matahari untuk menjemur Khalid. Hem baiklah esok Insya Allah akan kami jemur Khalid.

Kenapa bayi harus dijemur?

Beberapa berkeyakinan bahwa kuning pada bayi bisa dicegah dan dikurangi dengan sinar matahari pagi sebelum jam 8. Namun ada juga yang berpendapat bahwa sinar matahari tidak akan mempengaruhi kandungan Bilirubin pada bayi kuning dan bahwa sinar matahari itu bagus karena mengandung vitamin D untuk pertumbuhan. Apapun itu, menurutku bayi baru lahir harus dijemur sih.

Dan di hari itu banyak saudara yang berdatangan. Aku masih dalam keadaan yang cukup fit untuk menceritakan perihal persalinan ku dan berbincang dengan saudara serta para kerabat. Uda bernagkat untuk kerja ke Jakarta dan menjemput Umi di bandara.

Khalid masih seperti biasa, minum ASIX sesuka nya.

Di malam hari, Umi datang jauh datang dari Payakumbuh, Sumatera Barat, untuk melihat cucu nya. Dan tamu masih datang untuk menjenguk Khalid.

Saat menjelang malam, kulihat ada tetesan warna merah dekat lubang hidung Uda.

“Hahaha yaampun, kalau ngupil mbok ya angan terlalu semangat gitu loo, masa sampai lecet ada darahnya begini?” Dia sedikit menolak dituduh mengupil dgn semangat, kemudian Ku sedikit tertawa sambil membersihkan sedikit darah di hidung nya dan lalu memasukkan sedikit bagian tisu ke dalam hidungnya. Dan…

“Loh loh loh loh loh? Kok mimisan? Da kamu mimisan? Heee apa karena ga tidur tidur ya kamu dari kemarin-kemarin? \(˚☐˚’!!)/ \(!!’˚☐˚)/”

“Hemm mungkin sih. (._. )”

*bedewe ekspresinya memang jomplang banget sih akunya panikan dia nya santai -____-

Alhamdulillah darah tidak terlalu banyak dan sudah agak mengering.

Dan setelah berbincang, kami memutuskan untuk menyampaikan kepada teman-teman yang mau menjenguk untuk menunda dulu datang ke rumah karena kondisi kami yang kurang fit karena kurang tidur dan hal lainnya. Huff ini emang kitanya yang lemah banget atau rata-rata orang yang baru melahirkan beserta yang nemenin persalinan juga gitu ya? Entahlah, intinya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya bagi kawan kerabat yang sudah merencanakan menjenguk kami saat itu namun tidak jadi karena kami yang kurang fit. (ʃ⌣̩̩_⌣̩̩ƪ)

Maaf jika terkesan kurang sopan karena menolak tamu. (ʃ⌣̩̩_⌣̩̩ƪ)

Kami mohon maaf sekali lagi dan mohon pengertiannya (ʃ⌣̩̩_⌣̩̩ƪ)

Kalau mau jenguk sekarang BOLEH KO 😀 *kegirangan* \(´▽`)/ (ʃƪ´▽`)

 

Dan dari sini, aku sangat menyarankan untuk memperhatikan adab bertamu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, J Bukan bermaksud menggurui ko L yaitu untuk mengabarkan dulu paling tidak sehari sebelumnya kepada orang yang akan dijenguk. Mengapa? Karena takutnya kami melayani tamu tidak optimal dan takut terkesan ogah ogahan karena kelelahan. Begitu. Jadi tolong perhatikan ya ♥♥♥

Malam datang, dan masih sama, kami berdua siap siaga. Namun, ada yang aneh.

Khalid terlihat tidur lebih lama. Dan Mama bilang kulitnya sedikit menguning.

“Bayi wajar kok kuning di awal awal lahir mah Ma. Lagian ga terlalu kuning kok, ini masih agak merah-merah Ma. Ini karena ga dijemur aja kan belum pernah dijemur dari lahir karena mendung terus Ma,” tandasku sambil cemas.

Selasa, 21 Feb 2017; 04.00 AM

Zrashhhhh

Hujan deras pemirsah…

*eaa bunyinya harus ‘zrash’ banget ye wkwkwk*

Kemungkinan Khalid belum bisa dijemur lagi. Padahal sudah hari kelima belum dijemur sama sekali.

“Na, ini mah kuning. Udah bawa ke rumah sakit saja,” Mama ku mengatakannya saat itu masih Subuh.

“Iya sih ga ada salahnya juga. Dan emang udah agak kuning sih Ma. Okelah kalau begitu ma.”

“Yaudah siap-siap. Kemungkinan Khalid disinar kayanya,” Papa ku menimpali.

“Disinar? Disinar apa Pa?”

“Ya kalau kuning, biar cepet turun Bilirubin nya, disinar UV warna biru gitu.” “Ohh paling berapa lama kalau disinar Pa?”

“Rata-rata 48 jam disinar biru.”

“Dirawat dong?”

“Ya gak tau bisa juga ga disinar, udah siap siap yuk.”

“…………………………………………”

Zrashhhhh

Nangis dalem ati. Papa Mama keluar kamar aku nangis minta ampun.

(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

Kukira disinar hanya lima menit or paling lama sejam gitu kan HUHUHUUHU

*maaf buat para tenaga di bidang kesehatan yang mungkin ngetawain pengetahuan anak teknik ini huhuhuhu*

Lalu kami sepakat memutuskan untuk membawa Khalid ke Rumah Sakit tepatnya ke bagian Dokter Spesialis Anak (DSA). Aku berangkat bersama Umi, Papa, Mama, dan Khalid tentunya. Uda menjemput Tante Wit dan anaknya di Gambir yang datang dari Jogja untuk menjenguk Khalid :’)

Memang semenjak kemarin aku sudah mencari-cari gejala kuning pada bayi di internet, dan memang agak deg-deg an serta khawatir karena saat itu Khalid lesu, dengan kulit wajah dan tubuh yang merah kekuningan. *Merah karena memang masih bayi merah *baru lahir*

Khalid diambil sample darahnya untuk di cek kadar bilirubin Saat diambil darah, Khalid tidak menangis sama sekali. Dia benar benar lesu dan tidur huhuhu (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

Setelah menunggu beberapa saat hasil lab keluar dan kami menuju DSA yang saat itu belum melihat hasil lab nya.

“Bu, ini anak keberapa?” “Pertama Bu”

Dicek seluruh permukaan kulit Khalid dengan cara ditekan-tekan. Dan memang ada semburat kuning saat ditekan yang merupakan gejala kuning. Saat Khalid membuka matanya, matanya sudah kuning! (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

Huhuhu daritadi ia tidur sehingga aku tidak menyadari bahwa matanya sudah mulai menguning.

“Ini Kuning ya udah Kremer 3 ya Bu. Sudah sampai lutut kuningnya. Hasil labnya udah? Berapa BL nya? *bilirubbin*

DSA bertanya kepada perawat.

“10.5 dok”

“Oh sebenernya 10.5 mah bisa dibawa pulang gausah dirawat, tapi kalau dilihat lewat fisiknya kuningnya udah termasuk kuning banget Bu kaya yang di atas 12. Jadi dirawat aja ya mulai hari ini.”

“Oh kira—kira berapa lama Dok?”

“Ya disinar 48 jam lah”

“Hmm kalau boleh tau yang memicu kuning bayi apa ya dok?” *memastikan hasil browsing*

“Macam-macam ya. Bisa karena kurang ASI karena Ibu kan kadang belum keluar ASI nya karena baru melahirkan. Ibu golongan darah nya apa?”

“B dok”

“suami?”

“O dok”

“Anaknya B atau O?”

“Belum dicek dok. Mungkin ada di hasil lab tadi.”

“Anak Ibu O ya ikut ke Bapaknya. Yaa kemungkinan karena beda golongan darah.”

“Iya kalau ibu atau bayi salah satunya O, biasanya pasti kuning ya.”

“Oh gitu dok. Baiklah.”

“Saya kasih surat untuk dirawat ya.”

“Iya Bu” *lemes*

Jadi pemirsah, kuning pada bayi baru lahir itu noemal jika kuning muncul 3-4 hari setelah lahir dan akan menghilang sendiri pada minggu-minggu 2-4. Penyebab bayi kuning ini banyak sekali faktornya. Faktor intinya adalah fungsi hati bayi yang masih belum optimal mengolah bilirubin dalam tubuh bayi sehingga kandungan BL di dalam tubuh bayi tinggi. Oleh karenanya perlu diberikan ASI atau susu formula terus menerus sesering mungkin agar bayi pup dan pipis yang akan mengeluarkan BL dalam darah bayi. Alasan lain yang MUNGKIN terjadi sama Khalid adalah karena ASI ku yang kurang dan bedanya goldar aku dan Khalid. ‘Perbedaan goldar’ yang menyebabkan bayi kuning ini biasanya terjadi karena perbedaan rhesus (Ibu ber rhesus – dan anak ber rhesus +), atau golongan darah (Ibu O, Bayi selain O. Namun pada kasus lain bisa juga terjadi jika bayi O, dan Ibu ber goldar selain O). Untuk alasannya bisa dibuka di link ini.

Namun bukan berarti tidak bisa menikah or berjodoh dengan orang yang ber-rhesus beda dengan kita atau bergoldar yang beda dengan kita loh. Tenang saja karena sang Ibu biasanya akan diberikan suntikan apa gitu yang mencegah antigen sel darah Ibu menyerang bayi saat dalam kandungan sehingga bisa lahir tanpa kuning. Oleh karena nya hal itu harus diskonsultasikan dengan dokter kandungan. Oke kembali ke pembahasan sebelumnya.

Di Ruang Rawat Bayi

*celingukan*

“Loh, ruang rawatnya kok cuman kotak box box gini? Tempat buat Ibu nya mana ya Bu?”

Aku menanyakan kepada salah satu perawat bayi di unit ruang rawat tersebut.

“Oh Ibunya ga ada tempat nginap kaya ruang rawat dewasa, Bu.. Kalau mau nginap, Ibu bisa duduk di sofa ini Bu *sambil menunjuk sofa empuk panjang ukuran 2*1 meter di luar ruang rawat bayi*..

“Selama ini Ibu-Ibu bayi bayi ini jenguknya gimana Mbak? Kalau bayi mau minum gimana Mbak kalau Ibunya ga di sini?”

“Jadi, bayi Ibu kan disinar, setiap 2-3 jam sekali akan diberi ASI dari Ibu, atau susu formula jika tidak ASI tidak ada. Ibu dan Ayah bayi bebas keluar masuk 24 jam untuk mengantarkan ASI atau menyusui lngsung. Tapi kalau menyusui selama 1 jam misalnya, berarti waktu sinarnya mndur Bu. Harusnya dirawat 48 jam, karena dikeluarkan dari box selama 1 jam, total bayi bu di RS jadi harus 49 jam mengganti waktu bayi dikeluarkan tadi dan malah takutnya kurang efektif. Kami sarankan Ibu mengirim ASI Perah saja Bu ke sini.”

Hancur berkeping-keping hati ku maaak. (ʃ⌣̩̩_⌣̩̩ƪ)

Kemudian Khalid ditimbang berat badannya.

FYI, Khalid lahr dengan berat badan 2.540 gr alhamdulillah di atas 2500 gr yang merupakan batas berat badan bayi normal karena jika di bawah itu kemungkinan dimasukkan ke box bayi khusus. Mengingat Khalid yang lahir tanggal 17 Feb 2017 lumayan jauh dari Due date/Hari perkiraan Lahir (HPL) yaitu 4 Maret 2017 dengn umur kehamilan 37 minggu 6 hari yang didahului dengan KPD (Ketuban Pecah Dini), kami sangat besyukur aku bisa mengejar berat 2,540 saat Khalid Lahir.

Namun saat keluar dari RS beratnya menjadi 2.400 gr.

Jeng jeng jeng ….

Ternyata wajar jika dalam minggu pertama bayi turun hingga maks 10% dari berat lahirnya karena sisa sisa cairan yang ia telan selama di dalam rahim dikeluarkan dalam bentuk mekonium yaitu pup bayi berwarna hijau kehitaman dan akan mengurangi berat badan lahir bayi. Namun jika ASI cukup, ia akan mendapatkan berat badan lahirnya kembali di minggu ke 2-3.

Balik lagi ke masa Khalid ditimbang saat akan dirawat untuk disinar UV untuk mengurangi angka BL dalam darahnya.

“2.420 gr ya Bu.”

Hoo alhamdulillah sempat naik 20 gr beberapa hari keluar dari RS setelah lahiran.

Kemudian Khalid dibawa ke sebuah ruangan di mana hanya perawat yang boleh masuk.

Baiklah. Aku menunggu di sofa panjang.

Di sofa panjang itu, aku melihat seorang Ibu di samping ku yang sedang dibantu oleh 2 orang calon bidan *mahasiswa PKL*.

Lagi ngapain itu?

Setela kucermati, ternyata sang Ibu adalah Ibu dari bayi prematur yang telah dirawat 20 hari di RS dan sedang berjuang memerah ASI ntuk diberikan ke anak kesayangannya. Masya Allah.

Info tersebut kudapatkan dari mahasiswa PKL *bidan PKL* yang sedang duduk di sebelahku yang kutanya-tanya hehehe kepo banget nih mamak mamak emang.

“Kok sampe dibantu 2 bidan begitu mbak? Ada apakah Mba?” aku tanya lagi.

“Iya Ibunya baru pulih pasca melahirkan, baru kal ini merah ASI, Bu.”

Ahelah gue manggil Mbak, ngapa dia manggil gue Ibuk dah? *sedikit esmosi*

Oiya udah punya anak ye. Lagian dia pasti lebih muda dari ku. Gapapa gapapa harus mulai terbiasa kan emang udah jadi Ibuk Ibuk wkwkw

#baladabiasajadimbakmbakmudayanglahirtahun95 #masihngerasabelia

Kembali ke percakapan ku dengan mbak PKL.

“Jadi selama ini bayi nya dikasih minum apa mbak?”

“Ya sufor Bu. Karena kalau ga dikasih minum kan malah bahaya dehidrasi.  Kami menyarankan ASI, tapi kalau produksi nya kurang dari permintaan bayi, kami sarankan Ibu mencari donor ASI, tapi kalau ga ada juga, prosedurnya di sini pakai sufor Bu.”

*Bedewe sufor itu Susu Formula yaw*

Berhubung Mbak PKL ini bidan PKL, dia agak hati-hati sih ngasitau aku karena takut kali ye sama perawat bayi senior nye, salah salah dikeplak lagi nih mahasiswa. Hehehe ga ding. Emang mbak mbak PKL ini sopan banget jawabnya. Ramah senyum pulak.

Baiklah kembali ke perbincangan..

“Oh gitu. Kasihan ya Mbak, Ibunya sampai kecapekan gitu.”

“Iya, Bu.”

Terlihat wajah sang Ibu yang memompa ASI meringis menahan kesakitan. Awalnya beliau memompa menggunakan pompa manual, namun lama-lama pakai tangan.

Tangan mbak-mbak PKL nya..

…………….

…………….

Dibantu perlahan oleh para mbak mbak PKL, terkumpullah setengah botol kaca yang disediakan RS. Kurang lebh volume nya 50 ml. (Satu botol full bervolume 100 ml)

Hem sejam lebih 50 ml ya? Mungkin karena Ibu nya belum pernah menyusui jadi sebegitu susahnya. Aku kan udah menyusu selama kurang lebih 5 hari, Insya Allah lebih mudah lah ya.

Target 2 botol full hari ini biar Khalid minum ASI ga dicampur Sufor! Semangat!!! (•̀_•́)(҂`´)9

2 botol means 200 ml.

*ya ampun aku sombong banget disini Astagfirullah al azim ampuni aku ya Allah T-T

Kemudian aku mikir………………………….

‘Lah lah lah btw pakai apa alatnya yak?’

Jadi sebenarnya aku sudah memikirkan untuk membeli pompa asi elektrik, namun sampai hari tersebut, aku lupa dan ga kepikiran sama sekali.

RS tidak menyediakan alat ASI Perah, alhamdulillah akhirnya Papa yang beliin alat asi perah nya di apotik. Pompa Manual. Hehehe aku bayangin Papa ngomong apa ya pas beli pompa asi di apotik hehehe *cekikikan* #plakkkk

Baiklah aku pasti bisa, kok.

Sebenarnya aku sudah banyak follow IG mamak mamak keceh nan super yang baik banget sharing tentang perASIan. Dari mulai review pompa asi, cara pompa asi, cara menyimpan, cara menyuguhkan, dll. Dari seluruh review, memang rata-rata menyarakan untuk menggunakan pompa asi elektrik yang harganya cukup mehong. Tapi worth it menurut mereka. Mereka bilang pompa asi manual itu bikin pegel.

Hem aku kuat kok Insya Allah, mudah ASI Perah mah.

*meni sombong ampun Gusti Astagfrullah al azim (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)*

“Bu, yuk ASI nya coba dipompa dulu. Bayinya sudah masuk box dan sudah mulai disinar.”

“Hem oke baiklah”

Datanglah 2 orang Mbak PKL. Yang satu adala mbak yang kuajak ngorol tadi, satu lagi mbak yang tadi membantu Ibu sebelumnya memompa ASI. Mereka sudah mempersiapkan alat pompa manual yang dibelikan Papa tadi dan sudah disterilkan dengan air panas, serta menyiapkan sebaskom air panas dan handuk kecil.

Mula-mula *maaf* PD direlaksasi dengan ditempelkan handuk air hangat.

Kemudian pompa dimulai.

….

Mak…..kok….. susah…..

“Butuh bantuan, Bu?”

“Sangat mbak, Ini gimana megangnya yak? Ko sakit? Kok susah? Kok ga ada yang keluar?”

“Sabar ya Bu, memang pompa manual agak susah dibanding menyusui langsung. Apalagi kalau belum terbiasa.”

Mbak PKL dengan sabar membantuku menggunakan pompa asi manual.

Beberapa menit kemudian, yeay TETESAN ASI mulai keluar.

Yaampun. Aku pikir akan keluar seperti air kran mengalir gitu. Ternyata tetesan.

Benar-benar hanya satu tetes dari beberapa kali pompa HUHUHUHUHU

“Sabar ya Bu, gak boleh stress, makin susah nantinya, santai bu relaks ya.”

*mungkin mbak nya ngerasa aku dsitu mulai bengong*

Bermenit menit nit nit nit pun berlalu. Alhamdulillah keluar tetesan-tetesan emas yang dapat dihitung jari buuukk.

ASI nya cuman buat basahin pantat botol.

Pantat botolnya juga belum basah semua T-T

Masya Allah betapa sombongnya aku pas ngelihat Ibu yang pompa ASI sebelum aku T-T

Ya Allah ya robbi.

Kumaha hayang merean 2 botol mun kie mah T-T

Gimana mau ngasih 2 botol kalau kaya gini mah.

Pikirku…

Mbak PKL sudah mulai sadar aku meringis2 kesakitan.

“Ibu ada pompa lektrik yang kaya selang panjang gitu Bu?”

“Ga ada mbaak.”

“Oh yaudah gapapa”

Lanjutlah pompa manualnya. Kali ini aku meminta untuk melakukannya sendiri. Satu jam berlalu

Pegel buangetttt tangan ku. Lumayan udah bisa basahin pantat botol T-T :’)

“Ibu maaf kalau boleh, saya perah pakai tangan seperti Ibu yang tadi boleh Bu? Lebih efektf dibanding pakai pompa?”

“Ah sudahlah mbak apa aja saya lakuin. Gimana cara nya, Mbak?”

Akhirnya aku melakukan hal yang sama degan Ibu yang diperah ASI nya sebelum aku. Berkali kali aku mencoba pakai tanganku, tapi sakitnya minta ampun Subhanallah. Aku ga tegaan, jadi ga keluar ASI nya.

2 jam berlalu.

“Neng, udah aja Neng kasian itu Ibu nya dah meringis2 gitu mah.” Kata salah satu Ibu petugas bayi yang meliat usahaku dari tadi.”

Aku agak setuju dan ga setuju sih dengan perkataan Ibu itu.

Ga setuju karena jumlah asi belum mencapai target malah disuruh stop perah ASI nya.

Setuju karena, emang sakit banget Masya Allah aku sampai keringat dingin. Sebenarnya mbak ini sudah menanyakan berkali-kali mau dteruskan atau tidak. Namun aku keukeuh untuk diteruskan.

Sampai akhirnya aku lemes dan keringat dingin bercucuran.

Tebak berapa ml yang kami kumpulkan pemirsah?

Yap, tidak sampai setengah botol.

2 jam….

Sedangkan ibu yang *maaf* agak kuremehkan tadi bisa 50 ml dalam sejam!

Astagfirullah, sebenarnya itu juga yang kutangiskan. Betapa sombongnya hamba Mu in ya Allah.

Alhamdulillah bangeeettttt bisa ngumpulin 30-40 ml. GOLD!!!!!!

“Bu ini kan bayinya disinar, agak hangat di dalam box, kemungkkinan bayi akan sangat cepat haus. Kami akan kasih ASI ibu kepada bayi Khalid, namun kalau kurang, kami pakai Sufor gapapa kan Bu?”

Saat itu jam menunjukan jam 2 siang.

“Hemm jam 8 malam insya allah saya kesini lagi kok mbak Gabisa kah kalau nanti pakai asi saya lagi aja?”

“Gabisa Bu, kasian baby nya dehidrasi Bu nanti, semua bayi juga begitu Bu. Kecuali jika memang Ibu bisa menyediakan ASI ibu dan donor ASI yang cukup”

“Hmm yaudah mbak, pakai sufor aja kalau ASIP ku udah habis.” ASIP meansASI Perah.

Dengan sangat sangat saat sedih, aku harus merelakan Khalid minum sufor di hari kelima nya ia setelah dilahirkan ke dunia. Ah idealis ku untuk ASI Eksklusif 6 bulan bahkan 2 tahun tanpa sufor lenyap sudah. Tapi apalah arti nya jika Khalid malah dehidrasi.

ASI memang yang terbaik untuk bayi.

Namun Susu Formula bukan racun.

Akhirnya aku perbolehkan mereka memberikan Khalid Sufor jika ASI Perah nya habis.

“Ibu nanti balik lagi Bu? Saran saya, kalau Ibu memang mau memerah ASI, pakai tangan aja Bu dicoba. Kalau pakai tangan udah bisa, pompa jadi jauh lebih mudah Bu. Memang sakit, tapi silakan dicoba ya Bu. Jangan stress pokoknya Bu.”

Kemudian kami pulang ke rumah. Dengan Khalid yang dirawat.

Ana sedih ga?

Ah jangan ditanya. Aku nangis sepanjang jalan pulang. Rasaya mau nginap aja di rumah sakit.

Tapi tidak diperbolehkan orang tua ku, karena kalau di RS banyak orang sakit lalu lalang. Aku harus jaga kesehatan dan pikiran agar produksi ASI meningkat.

Sepulangnya di rumah, jam menunjukan pukul 4 PM.

Aku bersiap untuk pompa dan perah asi untuk diantarkan nanti malam.

04.30 PM sd 07.30 PM non stop.

Stop hanya untuk minum dan makan untuk memulihkan tenaga.

Kurang lebih 75 ml.

Masya Allah perjuangan ini….

Speechless banget Ya Allah…

07.30 PM aku diantar Papa menuju RS untuk mengantarkan ASI. Asi harus diminum sesegera mungkin karena hanya awet selama 4 jam di suhu ruang.

08.30 PM

Aku dan Papa sampai di RS.

“Bu, saya mau kasih ASIP (ASI Perah) untuk Bayi Khalid”

“Oooh, mau nyusuin langsung Bu?” tawar petugas bayi

“MAU BU!” Begitu senang hatiku uuuhu walaupun sebenarnya sudah diperingatkan Papa kalau khalid dikeluarkan dari box selama setengah jam, Khalid akan setengah jam lebih lama di RS. Tapi gimana ya atuh ya huhuhuhu pengen banget meluk Khalid ya Allah *terus aku nangis ngetiknya*

Aku masuk ke ruangan yang terdiri beberapa box yang berisi bayi bayi mungil yang ditutup matanya dengan kasa dan disinar, sama seperti Khalid. Setelah kucari-cari dengan megikuti langkah perawat, aku melihat seorang bayi di box yang disinari sinar biru.

Muhammad Khalid Al Fauzan

Begitu nama yang tertera di atas box tersebut.

Aku menahan tangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak? Aku berada dekat dengan Khalid, dan bayi bayi lainnya yang telanjang hanya memakai pampers dengan mata tertutup huhuhuhuhu

Begitulah ilustrasi nya. Foto bukanlah foto Khalid, namun foto yang kuambil di Google. Mohon maaf bagi yang memiliki foto ini. :’)

“Sebentar ya Bu, Khalidnya dibedong dulu, Ibu tunggu di sofa sambil siapin untuk menyusui ya Bu.”

Kemudian perawat meninggalkan Khalid utk ambil kain bedong. Dan aku bersiap meninggalkan Khalid untuk persiapan menyusui.

“Ea ea ee eakkkk” Tak lama Khalid nangis saat aku tinggalkan.

“Aduuh, tau bau Ibu nya yaaa? Ditinggal bentar aja nangis, iya iya ini digendong Ibunya bentar lagi yaaa” canda perawat kepada Khalid yang membuat air mataku makin banjirrr.

Khalid ditaruh di lenganku. Saat menyusui, kulihat wajahnya..

Matanya…

Masih kuning :”

Iya sih baru juga berapa jam kan huhuhuhhu.

Satu jam berlalu. Aku beranjak pulang degan rasa yang berat sangat berat.

*Nangis lagi*

Di mobil mataku ga bisa berhenti nangis huhuhuhu bengkak lah alhasil ehehehe

Sesampainya di rumah, Uda, Tante Wit dan Carmine sudah sampai. Aku minta maaf karena saat mereka sampai Khalid sedang dirawat. Begitu pun ke Umi, baru semalam sampai, paginya Khalid sudah harus dirawat T-T.

Malamnya, aku menangis sejadi-jadinya melihat kasur Khalid.

Baju baju Khalid.

Uda menenangkan tanpa ada air mata di pipinya.

Kemudian tak sengaja aku ambil salah satu topinya.

Dan tertinggal wangi Khalid yang begitu lekat.

Saat topi itu kuberikan kepada Uda, ia menempelkan topi di hidungnya, kemudian menempelkan wajahnya ke tembok. Lamaa sekali.

Ternyata pecah tangisnya.

Kami menangis malam itu dengan baju serta topi Khlaid yang kami ciumi sepanjang malam. ̩̩_̩̩ƪ)

Rabu, 22 Feb 2017 04.00 WIB

Pukul 4 pagi aku sterilkan alat pompa untuk menyediakan ASIP fresh untuk Khalid. Sambil mengantuk aku melakukannya hingga pukul 07.00 AM. Alhamdulillah terkumpul 75 ml.

Setelahnya, Mama memanggil Bu Mimin yang memang jago sekali pijat dan urut untuk pijat badanku yang memang pegal pegal setelah melahirkan serta urut punggung untuk Pijat Asi agar produksi ASI meningkat.

Namun saat itu yang kurasakan adalah *maaf* PD ku sangat sangat sangat sakit. Keras dan bengkak.

“Aduuuh, ini mah gaboleh kaya gini, harus diperah atuh Mbak Ana harusnya semalam biar ga bengkak”

“Dipompa kok tadi pagi Bu”

“Semalam?”

“engga hehehe terus gimana Bu Mimin?”

“Akhirnya sesi pijat bertambah. Bu mimin terpaksa mengeluarkan ASI di PD yang bengkak dengan tangannya.”

Dan memang ternyata banyak sekali ASI yang keluar.

Namun sedihnya aku harus melihat ASI itu keluar begitu saja tak tertampung. Karena memang PD sudah bengkak, agar memudahkan pemerahan, Bu Mimin menggunakan minyak urut. Tidak mngkin kan Khalid kuberikan ASI campur minyak urut.

Dan benar! Kempes sudah gak sakit lagi!

“Emang kudu tega sama diri sendiri Mbak Ana kalau udah bengkak gitu harus dikeluarin Asi nya. Harus setidaknya 2-3 jam sekali disusuin, krn Khalidnya dirawat, ya di perah setiap 2-3 jam Mbak. Gapapa pakai pompa manual, tapi pakai tangan juga. Lebih efektif pakai tangan da. Sakit sakit dah. Toh kalau bengkak daripada jadi keras, makin susah keluarnya, ngendap, harus dikeluarin juga dioperasi! Terus malah berhenti asinya. Mau emangnya?”

Huuu Bu Mimin bikin takut aja. Tapi memang benar adanya.

Menurut AIMI dan para selebgram *hehehe para dokter juga kok*, rumus produksi ASI adalah:

Supply  =  Demand

Jika ingin produksi ASI meningkat, maka frekuensi menyusui pun harus ditingkatkan.

Khalid biasanya meminum ASI sepanjang hari sehingga saat Khalid dirawat, sebenarnya ASI diproduksi sesuai kebutuhan Khalid. Namun karena aku malas memompa malam hari nya. Bengkak lah di pagi harinya.

Kalau tidak dipompa, bisa bengkak, abses, dan benar apa yang dikatakan Bu Mimin, menurut AIMI, bisa dilakukan tindakan operasi untuk mengangkat abses dan ASI bisa berhenti atau berkurang pesat produksi nya.

Jadi, Insya Allah semua wanita bisa menyusui anaknya kok jika memang tidak ada kendala apa pun.

Memang harus terus terus dan terus disusui dipompa diperah terus menerus. Sakit memang.

Lelah memang. Tapi insya Allah Lillah bukan lelah.

Jika bukan karena mencari dan membaca artikel serta pengalaman-pengalaman menganai meng-ASI-hi di internet dan Instagram lewat IG-IG Mamak Mamak Super Cetar, aku kayanya bakal nyerah ASI Eksklusif deh T_T. Motivasi dari kita dan dukungan orang sekitar emang sangat sangat super duper penting! Tapi yang utama adalah motivasi dari diri kita sendiri dulu.

Karena lingkungan akan PASTI mengeluarkan pertanyaan2 dan pernyataan2 yang seakan ‘wajib’ ditanyakan dan diungkapkan ke Ibu yang baru melahirkan.

“ASI nya keluar ga?”

“Kalau dulu mah ya saya sampai netes netes deh ASI nya.”

Apalagi jika anaknya mengalami kuning (Jaundice) jangan heran jika ada pertanyaan dan pernyataan begini:

“Kenapa ya jaman sekarang pada banyak yang kuning? Jaman dulu mah engga ada ya? Kurang ASI nya ya?”

“Susuin terus atuh bayinya. Apalagi udah kuning gitu mah kasih Susu Formula aja lah gausah sok idealis. Anak saya paka sufor gapapa tuh sehat sehat aja sampai sekarang.”

Bapak bapak, Ibu ibu, mamak mamak, tante tante, mbak-mbak. Maaf atas keidealisan kami yang ingin memberikan anaknya ASI. Karena tidak dapat dipungkiri ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sd min 6 buan dan maks 2 tahun. Salahkah jika kami mengingnkan yang terbaik untuk anak kami?

Jika memang keadaan mengharuskan kami memberikan susu formula, baiklah, kami mengerti. Namun, tidak bolehkan kami berusaha semaksimal mungkin? Berikhtiar semaksimal mungkin?

Susu formula memang bukan racun. Kami tahu. Tapi alangkah baiknya jika sang Ibu yang memang sdg berusaha mengASIhi itu disemangati, karena pikiran sangat berpengaruh kpd produksi ASI yang nantinya akan membeikah pengaruh kpd berat badan dan emosi bayi. Menyemangati dengan kalimat positifi akan jauh lebih baik disampaikan daripada menanyakan atau menyampaikan hal-hal sensitif semacam itu…

*Baper lo, Na*

 (” `з´ )_,/”(>_<‘!)

*Biarlah, sensi dikit boleh lah ya, kan niatnya menyampaikan bahwa menjaga hati, perasaan orang lain itu bisa dilakukan dengan menjaga perkataan. Apalagi ke bumil dan ibu yang baru melahirkan (˘̩̩̩˘̩̩̩) (˘̩̩̩˘̩̩̩) (˘̩̩̩˘̩ƪ)

Setelah prosesi urut selesai, aku pompa dan perah lagi selama 3 jam dan alhamdulilllah mencapai 130 ml , satu botol 100 ml dan 1 botol kaca lagi berisi 30 ml. Alhamdulillah ya Allah ya robbi. Bahagia bangetttttt (‾̴̴͡͡•‾̴̴͡͡ʃ)

ASIP yang dipompa dini hari udah diantarkan Papa pukul 07.30 ke RS sambil bekerja. Aku dan Uda menuju RS siang harinya untuk memberikan ASIP yang baru saja diperah.

Sesampainya di RS, kami bahagia sekali, terutama Uda. Kemudian kami ditawarkan menggendong dan menyusui Khalid hehehe walau sebenanya dilarang Papa sih karena nanti makin lama Khalid dirawat. Tapi tak apa, udah kangen banget juga :’)

Tidur tidur dan tidur. Khalid lesu sekali ia tidur terus. Ketika kususui pun matanya merem. Hem berkali kali kami kelitikin tetap saja. Karena memang salah satu gejala bayi kuning adalah lesu dan lemah selalu tertidur. Tapi kami tak gentar membangunkannya untuk minum ASIX.

Kami pulang pukul 2.00 PM dengan menitipkan 130 ml ASI Perah untuk Khalid. Kemudian kami makan di kantin dan bertemu dengan Mama yang menyusul ke RS satu jam kemudian 03.00 PM.

“Na, kok Khalid udah dikasih Susu formula tadi?” tanya mama yg baru menengok Khalid.

“Heee? Tadi langsung menyusui kok jam 2 tadi kita titip 130 ml asip malah.”

Akhirnya Uda masuk ruangan untuk memastikan.

Dan ternyata benar, perawat tidak jeli melihat botol kaca bertuliskan Bayi KHALID yang berisi 100 ml ASI dan 30 ml ASI sehingga ia memberikan susu formula. Namun yang membuat kami sedikit kesal adalah dengan ruangan dapur semini itu, apakah sesulit itu mencari botol ASI yang ada namanya?

Maksudku, aku sudah berusaha mengeluarkan ASI untuk Khalid pagi malam sakit-sakitan nangis-nangis demi sebotol kaca kecil berisi asi untuk Khalid dan dengan cerobohnya mereka memberikan susu formula untuk Khalid.

Ya kan susah kali Na nyarinya, kan banyak bayi di sana. Mending bikin sufor sekalian daripada cari botol kaca yg ada nama bayinya satu satu.

Ya kalau menurut ku itu kan termasuk job desc nya ya. Mohon untuk teliti. Itu ASIX sudah susah-susah dipompa diperah, makanya harus lebih teliti sih seharusnya, ga main kasih sufor aja. Maaf jikalau ada praktisi kesehatan yang sakit hati atas pernyataan ku. *Nanti gue dimarahin rame2 kaya Bupati Jambi kece yang sidak dadakan ke salah satu RSUD di sana lagi* Pissssss

Ya tapi itu udah risiko pekerjaan untuk teliti mencari apakah ada ASI yang dikirim sama Ibunya ga ya? Oh Ada nih, kasih ke bayinya ASI kalau gitu. Atau Oh ga ada abis ASIX dari Ibunya, yaudah kasih sufor aja. Bukan main kasih sufor aja padahal botol ASI yang aku kasih ada di atas kulkas loh. Di suatu ruangan dapur seluas 3*1 meter :’) Masa ga dilihat dulu sih?  (˘̩̩̩˘̩̩̩) (˘̩̩̩˘̩ƪ)

Ya kaan ditaruh di atas kulkas, harusya ga disitu! makanya saya gak liat.

Ya gimana dong SOP nya mbok taroh asip yang bener gitu ya saya kasih dari jam 12 siang kok sampai jam 3 masih aje di taro di luar, masukin coolbox kek kulkas kek. Inisatif dan teliti lah ya. Mbak dan Ibu ini ngurusin anak orang loh :’) Mbo ya jangan disepelkan gitu loh :’) Sakit hati kami Mbak Bu :’)

Wajar bukan kalau sebagai seseorang yang sudah bersusuah payah mengeluarkan ASI meminta perawat sedikit bersusah mencari ASIP sang Ibu dari bayi bayi yang mereka jaga? Amanah loh itu.

*esmosi ( `Д´)~┻━┻

Dan suami pun mengingatkan perawat unuk lebih teliti mencari ASIP yang diberikan oleh Ibu kepada bayinya.

Sore hari pukul 4 PM kami sampai di rumah. Sedikit waktu ku berbincang dengan Papa Mama Umi Tante Wit serta Carmine karena sepulang dari RS, aku langsung menyiapkan pompa ASI untuk malam nanti kuantarkan ke RS.

4PM-7.30 PM 100 ml. Alhamdulillah ya Allah senangnyaaaahhhh!

9 PM sampai di RS, Papa menyarankan kami untuk tidak menyusui Khalid, cukup beri ASI Perah agar tidak menambah waktu sinar Khaid dan cepat pulang #EdisiAkiRinduCucu. Kami pun mengiyakan karena jika sesuai rencana, Khalid akan pulang esok siangnya. Saat memasuki ruangan bayi, kami melihat Khalid menangis dalam box sejadi jadinya. Aku dan suami meminta untuk bayi Khalid segera dikeluarkan dari box tersebut kepada salah satu mbak-mbak yang ternyata ia Mbak PKL yang tidak punya kuasa untuk membuka box bayi.

“Maaf Pak Bu, saya gaboleh buka. Ke perawatnya ya Pak Bu”

Kami ke depan dan tidak melihat satupun perawat yang ready dan available untuk dimintai tolong. Para perawat sedang berkumppul di ruangan lain entah lah sedang apa.

“Mbak, itu perawat ga ada yang available? Lagi pada apa sih?”

“Lagi ganti shift Pak. Tunggu sebentar ya.” Mbak PKL menjawab dengan gelisah seiring dengan Khalid yang menangis sambil tengkurap dan menendang2 dalam box. Siapa yang tega melihat bayi menangis seperti itu. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

Awalnya kami tak tahu apa yang menyebabkan Khalid menangis seperti itu sampai ada salah satu perawat yang datang dan bilang,

”Iya Pak Bu, haus belum minum kayanya.”

“Hah, belum minum gimana Mbak? Terakhir minum jam berapa emang?”

“Sekitar jam 4-5 Bu. Soalnya Ibu baru datang ASI Perah nya habis jam segitu.”

“Loh ga dikasih sufor aja? Ini kan disinar mbak, bisa dehidrasi anak saya ga dikasih minum.”

“Terdiam”

“Yaudah mbak aku mau susuin anak ku.”

Perawat pun bersiap mengambil kain bedong untuk Khalid. Di situ aku masih sedikit kebingungan sambil memegang sebotol asip berisi 100 ml yang telah kuperah susah payah selama 3 jam.

Tiba-tiba ada seorang perawat senior datang dan bertanya,

“Ibu ASIP nya mana buat bayinya?”

“Ini Bu.” Memberikan sebotol ASIP berisi 100 ml yang telah kuperah susah payah selama 3 jam

“Dikit banget, Bu. Nih ya Bu ya kalau anaknya gak mau dikasih sufor, ASI nya harus yang banyak Bu. Ini dia di sinar loh Bu panas, nanti dehidrasi kalau ga dikasih minum. Anak Ibu tuh minumnya banyak banget karena disinar, dehidrasi. Ibu harus banyak kasih ASI bayinya kalau anaknya gaboleh dikasih sufor, kasihan loh Bu.”

JLEEPPPPPPP

“Ya saya ASI nya cuman ada segitu Bu. Susah payah juga Bu saya kumpulinnya. Lagian siapa yang bilang Khalid gaboleh sufor Bu? Jadi Khalid belum dikasih minum dari jam 4 sore Bu? *Udah jam 9 malam

FYI, bayi itu harus disusukan paling ngga 2-3 jam sekali dan harus minum 8-12 kali dalam sehari 🙂

Aku jawabnya sambil lirih. Kok tega banget ngomong gitu muhuhuhu

Akhirnya Khalid minum ASIX secara langsung selama satu setengah jam. Terlihat sekaali betapa hausnya dia.

Kemudian ada seorang perawat yang ramah yang memang saat hari pertama Khalid dirawat, dia dengan sangat hati-hati meminta izin ke saya dengan mengatakan bahwa jika ASIP Ibu kurang maka bayi harus dikasih sufor agar tidak dehidrasi. Saya pun bertanya kepada dia,

“Mbak, ini bayi Khalid belum dikasih minum dari jam 4 Mbak? Ko tega betul?”

“eh ia Bu, tadi saya mau kasih susu, pas saya mau kasih sufor ke Khalid, pada bilang, “eh bayi Khalid digabolehin minum sufor sama Ibunya ya. Jangan kasih sufor” Saya juga bingung Bu. Lah orang hari pertama Ibu ngebolehin saya. Kok malah gaboleh tadi. Saya juga ga bisa apa apa Bu saya ga kasih jadinya Bu soalnya ASIp Ibu udah habis.”

Kesel. Marah. Ya Allah. Siapa yang nyebarin info seperti itu. Untung saja tadi aku datang. Niatnya malam itu aku hanya ingin menitipkan ASIP ke Papa yang pergi ke RS karena nianya malam itu aku tidak menyusui Khalid. Alhamdulillah aku dan Uda datang malam itu.

Akhirnya kupesankan kepada Perawat di ruangan tsb bahwa anak saya boleh minum sufor JIKA ASIP saya sudah habis. Saya tidak pernah memaksakan anak saya untuk minum ASIP dari saya kalau memang dia butuh. Dan info bahwa bayi Khalid tidak boleh minum sofor itu salah. Dan tolong agar para perawat mengecek ASIP dulu sebelum membuat susu formula. Sesulit itu kah memeriksa nya? Itu bayi orang loh. Kok tega teganya lempeng gitu bayi ga dikasih minum selama 5 jam.. Jangan kayak robot gitulah, dikasih A ngelakuin A doang ga mikir inisiatif lain seperti menghubungi gitu nomer Ibunya kalau memang tau Khalid hanya boleh minum ASIP. Begitu pun bayi lain.

*emsosi ( `Д´)~┻━┻

*maaf yak (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) *

*maap bagi tenaga kesehatan apalagi perawat yang membaca ini dan merasa sakit hati maaf bangett. Ini saran dan nasihat loh ya. Tolong diterima. Jangan disomasi. ehehe canda

Kamis, 23 Feb 2017

Khalid bisa pulang kalau BL nya di bawah 9.

Alhamdulillah. Berita baik!

Aku langsung menyiapkan baju untuk Khalid dan berangkat ke RS bersama dengan Umi dan Mama.

Pagi itu aku tidak pumping karena aku yakin Khalid setidaknya akan pulang jam 12 siang hari ini. Aku akan stay di rumah sakit sampai Khalid pulang!

Alhamdulillah walaupun lebh lama dari rencana ku, Kahlid bisa pulang pukul 06.30 PM karen BL nya menunjukan angka 7.5. Walaupun masih jauh dari seharusnya, dokter mengizinkan untuk pulang.

Jumat 24 Feb 2017

Sebetulnhya aku sedikit bingung dan kewalahan karena Khalid agak kesulitan untuk meminum ASIX langsung dari PD. Dia begitu gelisah dan mengamuk hingga wajahnya memerah dan menangis.

Setelah aku searching, ternyata kemungkinan bayi mengalami bingung puting T-T *linked

Ya, selama di rumah sakit. Khalid memang lebih sering meminum ASIP dan sufor dari dot. Ia tidak perlu usah payah mengenyot karena susu dari dot akan langsung turun dikarenakan gravitasi. Sedangkan jika meminum ASIX secara langsung bayi harus berjuang beberapa menit sebelum ASI keluar. Oleh karenanya bayi kebingungan dan cepat mengamuk ga sabaran.

Sempet lelah banget juga sih, tapi atas dukungan dari buibuk di inteernet *ga secara langsung si, tapi baca sharing an nya mereka aja di browser* dan dukungan orang terdekat, Khalid mengakhiri bingung utingnya selama seminggu sahaja. Selanjutnya ia sudah meminum ASIX sama seperti sediakala malah lebih baik dalam latch on! Alhamdulillah robbil alamin 😀

Yap, demikian kisah tentang Khalid. Dengan berat lahir pas di batas minimum 2.540 gr, perjuangan berlanjut untuk menaikkan berat badan Khalid agar selalu ideal dengan ASIX! Doakan Khalid ya Tante dan Om supaya Khalid dan orang tua nya senantiasa sehat dan memiliki berat badan ideal! *hehehe minta doain juga buat orang tua nya*.

Stuggle! Perjuangan seorang wanita yang diberikan rezeki titipan anak oleh Allah SWT tidak selesai sampai proses melahirkan. Selanjutnya, masih buanyakkkk banyak perjuangan yang dilakukan. Tidak hanya bagi sang Ibu, namun juga sang bayi, dan pastinya keluarga, kerabat, serta orang-orang sekitar. Dimulai dari perjuangan Ibu untuk belajar gendong bayi, memandikan bayi, pakaikan baju, meng-ASI-hi *maksudnya memberi ASI* maupun memberikan Susu Formula, mencari ilmu browing tanya sana-sini, perjuangan membesarkan buah hati sambil menunggu keringnya jahitan pasca melahirkan. Masa nifas merupakan termasuk masa rawan bagi Ibu yang baru melahirkan. Kemudian perjuangan buah hati di mana ia harus belajar menyusui, belajar mengenal dunia yang baru baginya, perjuangan ia di mana kemungkinan terkena Jaundice/kuning, dan sebagainya.

Sebenarnya perjuangan tidak hanya dilalui oleh seorang wanita yang baru melahirkan. Dari kita lahir sampai di liang lahat merupakan perjuangan panjang! Perjuangan melahirkan dan membesarkan anak hanyalah sedikit dari perjuangan-perjuangan lain yang juauuuuuhhh lebih banyak dan menantang lagi demi kebahagiaan di akhirat dan dunia! Oleh karenanya, yuk mari sama sama berprasangka baik kepada Sang Pencipta Allah SWT, berjuang, dan bersyukur!! #SUPERSELFREMINDER (҂`´)9

Demikian kisah Khalid (2) yang ingin kubagikan  Jika ada kata-kata atau pendapat yang kurang berkenan, kumohon maaf sebanyak banyaknya. Karena kebenaran datang dari Allah SWT dan kesalahan datang dari kekhilafanku. Daaan mohon maaf jika ada istilah yang amburadul yang muncul dari ke sok tahuanku HAHAHA maap maap yaaakkk ƪ). Feel free to correct koook (ʃƪ´`)

Oh iya Insya Allah aku mau share tentang FAQ atau Frequently Asked Question yaitu pertanyaan yang paling banyak ditanyain ke aku mengenai persalinan Khalid hingga saat ini berusaha membesarkan Khalid, baik pertanyaan yang disampaikan saat berkunjung, via socmed seperti LINE WhatsApp dll. Jika ada yang mau nanya, tanyain aja ya! Bisa tanya via Instagram bagi yang gapunya kontak aku! Atau langsung tanya di komen juga BISA BANGET!

Insya Allah aku jawab seoptimal mungkin dan kurangkum on the next post 😀

Mohon untuk Klik +1 dan rekomendasi posting ini untuk dishare di google ya!

*Kalau bisa baca post lain, terus diklik juga +1 nya hehe*

Sok eksis banget sih lu Na kaya bakal ada yang nanya dan baca blog lu aja (¬–¬)

Aamiin! Semoga saja bakal banyak yang baca blog aku dan pastinya yang paling penting adalah semoga saja menginspirasi, memberi manfaat, serta membantu banyak orang. Aamiin ya robbal alamin!

Sorry for the SUPERLONGPOST!

Klik 1+ ya! Feel free to ask!

Alhamdulillahirabbil alamin

Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh!

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 


Leave a Comment