logo-mini

Cerita Khalid (1) : Persalinan

Share

Cerita Khalid (1) : Persalinan

 

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh 🙂


Apa kabar? Semoga senantiasa kita sehat walafiat dan berada di dalam lindungan Allah SWT dengan nikmat iman yang berlimpah aamiin ya robbal alamin.

Posting terakhir ku tentang pernikahan ya? Hmm coba tebak apa isi postingan kali ini?

*Udah ketauan juga sih sebenernya dari judul hehehe*

Muhammad Khalid Al Fauzan, 17 Februari 2017; 20 Jumadil Awal 1438 H ; 04.00 WIB


Di mana nama indah tersebut terkandung doa dari kedua orang tua, seluruh keluarga, beserta kerabat.
Semoga ananda menjadi pribadi yang soleh, kuat, kaya lagi dermawan, pembahagia dan pensejahtera keluarga serta seluruh ummat.
Berkarakter dan berakhlak mulia seperti Sang Kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW, menjadi pejuang Islam seperti sang sahabat yang bergelar pedang Allah, Khalid bin Walid.

Serta Al Fauzan yang merupakan nama ayah sang anak yang memiliki makna kemenangan.

Semoga senantiasa ananda mencapai kemenangan di akhirat dan di dunia dalam mencapai ridho serta surga nya Allah.
Aamiin ya robbal alamin.

Sedikit cerita yang mengawali kelahiran si soleh nan kuat ini, cerita yang kuceritakan kepada semua yang datang menjenguk. Bukan bermaksud menggurui, hanya berbagi pengalaman agar bisa diambil hikmah nya dan dipelajari kesalahannya. Oh iya kalau bisa benar-benar dibaca ya sampai ke link-link nya, *yang di block* karena bener-bener pembelajaran banget apalagi buat para wanita dan pastinya buat pria biar sigap ketika nanti kakaknya, adiknya, sepupunya, Ibunya melahirkan.
*maksa* *hihihi engga kok*

Kamis, 16 Februari 2017 : 10.00 WIB

Pagi itu sarapan ku memang agak telat, ada nasi dan lauk pauk di meja makan.

“Pakai sambal terasi mantep nih”, batinku *ala ala cerpen banget ye*
Kuambil bambu sebatang, kupotong sama panjang, kuraut dan ku……. emaap *lawak diQit, eaa*
Kuambil setengah sendok makan sambal terasi AB*, kuletakkan di ujung piring bersama nasi dan lauk yang sudah kuambil terlebih dahulu.

Di akhir sesi sarapan, kulahap sisa nasi di piring yang ternyata di bawah nasi tersebut masih ada sisa sambal terasi yang tak kumakan. Alhasil kepedesan nya lah aku wak. *Macam mana pulak jadi bahasa Batam ? Eh apa Batak? Hehehe*
Entah dimulai dari jam berapa, perut ku terasa kencangggg sekali. Kuanggap ini ‘kecang-kencang’ biasa seperti hari hari sebelumnya. Memang dalam seminggu ini perut ku hingga punggung pinggang semuanya ngilu ngilu. Yaaa kan sudah 36-37 minggu, wajarlah trisemester akhir, bayi sudah makin membesar. Oh ya kala itu usia kandunganku 37 minggu 5 hari.

Hmm kita mundur alias flashback lagi deh,

Senin, 13 Februari 2017

Jadwal kunjungan ku ke dokter kandungan di RSUD Kota Bogor. Berhubung sudah dekat dengan HPL (Hari Perkiraan Lahir) ku yang diperkirakan tanggal 4 Maret 2017 (40 minggu dari HPHT = Hari Pertama Haid Terakhir), kunjungan yang tadinya sebulan sekali, merapat menjadi 2 minggu sekali. Dan ini kunjungan kedua dua mingguan yang dijadwalkan.

Berat bayi ku masih 2430 gr kala itu (37 minggu 2 hari). Padahal minimal berat lahir bayi adalah 2500 gr. Huft sudah kesekian kalinya ketika kontrol, berat badan nya kurang terus. Tapi alhamdulillah insya allah masih ada waktu supaya minimal 3 kilo laaah Insya Allah pas tanggal 4 Maret. Dan kurang 70 gr lagi untuk mencapai 2500 gr. Pasti Bisa!
*Padahal berat badan mamaknya udah gede banget huhuhu*

Dijadwalkan lagi hari Rabu depan untuk kontrol. Ok noted.

Balik lagi ke hari Kamis, 16 Februari 2017

Saat itu aku sedang bekerja *Work From Home ceritanya* *Terus nanyi*.

Iya semenjak awal Januari 2017 aku ga ke Jakarta. Pekerjaan ku handle dari rumah. Kok bisa? Hehe kan suami Qu Bos Qu hehe. *padahal dari awal hamil kerjaannya bolak-balik nginep Jkt-Bgr nyelesein skripsi :”)*

Makin kenceng aja perutQu huhuhu. Sampai nangis-nangis minta ampun sakitnya.

17.00 WIB

Papa, Mama, adik-adik sudah ada di rumah semua, tinggal Pak Suami masih di Jakarta. Seperti biasa aku turun ke bawah *kamar ku di lantai 2, jadi emang biasa naik turun tangga hap hap hap*.

Aku curhat lah ke mamakku kayaknya perut ku kembung, dan akhirnya minta dikerokin sama mamake. Alhasil setelah kerokan perut agak enakan, walaupun masih kencang-kencang.

Btw kubaca-baca ga boleh kerokan ternyata ya kalau lagi hamil?

Hmm tidak dengan mamakQu, hampir setiap minggu dikerokkin waktu hamil keempat anak-anaknya. Jadi Qu selow minta dikerokin mamakQ.
Curhat lagi lah aku ke mamakku, kok perut aku kencang-kencang, mamakku bilang ati ati jangan capek-capek, harusnya gaboleh kalau kencang2 kaya gini mah Na.

Aku mikirnya ini kontraksi palsu kaya kemain-kemarin (Brexton Hicks) Jadi santai aja.

19.45 WIB masih di lantai bawah.

Ku menunggu Uda Qu pulang, sambil bobok, kuminta adik Qu yang paling bungsu untuk bangunin aku jam 8 tepat.

20.00 WIB

Jussss…
Kok basah….

Ku *maaf* ngompol? Hmm mungkin iya.

Loh loh loh kok makin banyak? Hoo mungkin karena kutahan sebelum tidur tadi.

Loh kok bening? Hooo mungkin minum ku terlampau banyak, jadi warna nya bening, tanda ga dehidrasi.
Bagus.

Loh kok ga pesing? Ya Allah….

“Ma, ini ketuban ya?”

Mamake langsung bangun, mengiyakan, istighfar sambil nyebut dan manggil Papa.

Hmm aku langsung hubungi suami yang udah di St. Depok dan ku siap siap ke rumah sakit.

Padahal baru hari minggu kemarin jalan ke pasar beli perlengkapan baby.

Baru senin ku packing koper sama suami.

Baru senin kontrol ke dokter.

Langsung berangkat ke RSUD Kota Bogor bawa koper with Mama, Faiz (adik bungsuku), dan tetangga yang bawa mobil.

Papa jaga rumah sama Ian, adek ku yang ketiga.

Di mobil mama ga berhenti nangis sambil berdoa.

Aku yang ga ngerasain apa-apa, cuma basah kuyup karena pecah ketuban kebingungan.

“Perut Ana ga sakit kok Ma, tenang ya”

“Na, ketuban itu normalnya pecah kalau udah pembukaan lengkap. Pembukaan 10. Kamu kan belum. Masih 37 minggu juga Mbak.. Ya Allah, harus lahir sekarang berarti kalau banyak gitu keluarnya… bayinya gerak kan?”

Jeng jeng jeng jeng ku yang tadinya tenang karena ga ngerasa sakit jadi pucet seketika. Ku ajak ngobrol Dedek bayi untuk tetap sama sama kuat dan keep moving. *Nangis aku kalau inget lagi*

Tetiba mulai sakit mules perutku di mobil. Tapi belum sering.

Sampai di IGD RSUD Kota Bogor, ternyata o ternyata ruangan melahirkan full, ruangan bayi nya juga full. Alhasil kita menunggu surat rujukan ke RS Ummi di Empang tempat dokter nya praktik. Di RSUD Kota, suami sudah datang.

00.30 WIB : RS Ummi

Aku lupa tepatnya jam berapa, intinya ku sudah Pembukaan 1.

Oiya di RSUD Kota dan di RS Ummi ku di cek CTG aka Kardiotokografi untuk mengecek Denyut Jantung Bayi dan Jumlah Kontraksi begitu.
Perutku makin mulas. Dan makin sering dan makin lama durasinya dan makin pendek jedanya.

“Ini indikasi Caesar ya Bu.” kata bagian administrasi.

Mamakku dan suami ku langsung kaget, kata siapa Caesar? Dokter kandungannya aja belum datang, kok berani nyuruh Caesar? Padahal menurut mamakku, kontraksi ku bagus karena makin sakit, jadi ga ada alasan untuk SC/Caesar.
Ternyata yang memberikan indikasi Caesar dalah dokter umum yang memberikan rujukan di rumah sakit sebelumnya -_- huft.

Setelah urusan dengan administrasi selesai, ku dipindahkan ke Ruang Melahirkan. *Tadinya di IGD*

Dan tidak jadi Caesar, diusahakan Normal. Ku di CTG lagi. Jika hasil CTG bagus, maka insya Allah bisa melahirkan dengan normal. Bagus itu kalau apa? Kalau kontraksinya ada, sering, jedanya dikit *hampir ga kerasa ada jedanya*, denyut jantung bayi stabil.
*maap kalau ku sok tahu, ini hasil jawaban mama dan bidan yang ada di RS hehe feel free to correct yaa*

 

Kruyukkkkk…

Hmm ku terakhir makan jam 4 sore. Ini ku mau melahirkan ini kudu ada tenaga.

“Mau nasi goreng?” Suami ku menawarkan

Dung, Khalid bergerak entah menendang menyundul atau apa.

“Iya, mau nasi goreng..” kujawab

Dung, Khalid bergerak lagi. Hihihi berkali kali Khalid bergerak makin bikin semangat.

Dan aku langsung memencet tombol yang harus kupencet jika ada gerakan dari dalam.

*Saat itu aku d CTG untuk kesekan kalinya*

Yang kubaca, kalau mau melahirkan harus banyak tenaga, karena bisa jadi Ibu kehabisan tenaga untuk mengejan karena lelah saat pembukaan. Nah ku udah lemes gini padahal belum pembukaan setengahnya (pembukaan 5) huhuhu ku paksa makan walaupun perut sakit sakit kontraksi.

*Padahal emang laper bingits*

Di sana ku dibantu dua bidan yang sabaaarrrrrrrrr buangettttttt puolllllll.

*Kulupa nama nya huhhuhu*

Udah kucubit-cubit, marah-marahin astagfirullah al azim maaf ya Mbak huhuhuhu ini yang namanya lahiran. Dan baru ku tahu ternyata waktu itu aku di induksi dan umumnya di induksi itu lebih sakit dibandingkan normal tanpa induksi. Aku tahu bahwa aku akan diinduksi, karena pihak RS meminta persetujuan dan tanda tangan suami ku. Dan mamaku mengiyakan. Mama juga insya allah paham jadi ku tenang-tenang aja. Induksi semacam diinfus gitu tapi cairannya berisi sesuatu yang memicu membantu kontraksi dan pembukaan CMIIW*
Aku baru browsing akhir-akhir ini ternyata kalau sudah KPD atau Ketuban Pecah Dini dan belum ada kontraksi *seperti aku yang pecah ketuban bahkan flek maupun pembukaan 1 pun belum ada*, tindakan Induksi biasanya memang dilakukan. Tidak melulu dan buru-buru Caesar/SC.

 

17 Februari 2017: 01.30 WIB

 

Mama dan Faiz pindah menuju ke ruangan Rawat Inap di lantai atas karena anak-anak tidak boleh ada di ruangan melahirkan. Faiz masih berumur 11 tahun, masih anak-anak.

“Udah pembukaan berapa Mbak?” Aku bertanya lemas dengan suami yang masih mendukung di sebelah ku.

“Pembukaan 4, Bu”.

Sempet kzl masa aku dipanggil Ibu melulu wkwkwk padahal emang udah mau jadi mamak-mamak kan ya wkwkwkwk.

“Ana nanti kalau sakit jangan teriak-teriak ya, istighfar! Ana kuat lahir normal! Jangan cengeng!”

“Iya Pa, Ma, tenang aja Insya Allah ana kuat, doain ana ya Pa Ma”

Dari awal Trisemester 3, orang tua ku berkali-kali menyampaikan hal tersebut. Ku iyakan saja karena aku juga mau melahirkan secara normal. Aku minta dukungan dari suami ku untuk tetap meyakinkan aku melahirkan normal.

“Emang kenapa sih? Kok pada nyuruh normal sampai segitunya? Insya allah bisa kok.”

Pikirku enteng kala itu……..

17 Februari 2017: 02.30 WIB

“Ya Allahhu Akbar, Robbi sakit banget Mbaaaakkkkk! Aku mau *maap* ngedeeeen huhuuhu”

“Gaboleh ngeden, Ibu. Nanti bengkak jalur lahirnya, lama lagi dedeknya keluar”

“Ya Allah Astagfirullah Mbaaaakkk, aku telentang ya?!” Saat itu disarankan miring ke kiri untuk mempercepat pembukaan.

“Jangan telentang Bu, lama lagi nanti dedeknya keluarnya. Telentang dan ngeden boleh kalau udah pembukaan 10 Bu. Ibu ikut komando Bapaknya aja tuh ikutin nafas Bapaknya”

Suami ku melakukan berbagai macam yang kusuruh, dari mulai menyalakan Murrotal di handphone, napas sesuai anjuran yang diajarkan bidan biar aku ikutin. Baju, rambut, pundak, tangan Uda habis jadi korban huhuhu maaf ya Da*peace, love, and gawl*

17 Februari 2017: 03.30 WIB

“Pembukaan berapa Mbaaakkkk?”

“Udah 8 Bu ayo jangan ngeden Bu, jangan teriak Bu! Semangat Bu!”

Sekelebet di benakku pengen SC saja….

Tapi mengingat pesan dari Papa Mama, kuurungkan niat tesebut.

Sebenarnya aku malu banget kalau ingat saat itu…

Aku teriak-teriak ya Allah maafkan hamba Mu ini T_T

“Jangan teriak Bu, nanti pas pembukaan 10 kan butuh tenaga buat mengejan, nanti Ibu nya capek habis napas,” kata bidannya.

Terus aku nangis sambil nahan sakit ngerang-ngerang. Bukan meraung ya. Eh sedikit meraung deh hehe ya Allah maafkan hamba T_T

“Jangan nangis sambil gitu Bu, nanti Ibu nya capek. Tahan Bu pakai napas yang tadi diajarin. Sabar ya Bu. Ibu kuat kok. Ini satu setengah cm lagi semangat ya Bu”

Terus aku semangat. Etapi malah ngeden wkwkwkwk.

“Ibu harus kuat tahan ngeden Bu, jangan ngeden ini udah bengkak jalan lahirnya Bu. Jangan telentang Bu lama lagi ntar”.

Saat itu bener-bener campur-campur antara kesel sama berterima kasih sama Mbak-Mbak bidannya yang bawel nyuruh aku nahan ngeden sama jangan telentang berkali-kali wkwkwwk bahkan aku antara sadar dan engga mencubit tangan bidannya.

“Aduh Bu jangan dicubit ini tangan saya Bu”.

Hahahahaduh maafin aku ya mbak mbak bidan RS Ummi yang super sabar T_T

17 Februari 2017: 03.45 WIB

“Mbaaaakkkk udah pembukaan berapa ya Allah.. Udah ya pembukaan 10 aja ya Mbak, saya ngeden sekuat-kuatnya aja ya Mbak,” pintaku.

“Jangan dulu Ibu, tahan, ayo 1 cm lagi. Tahan yang kuat istighfar sambil ikutin nafas suami Ibu itu Bapaknya bagus napas nya kaya gitu Bu ayo ikutin”.

Di situ aku sama Uda udah nangis bareng-bareng. Soal napas, malah kayak dia yang mau ngelahirin, soalnya napas dia kenceng banget biar aku ikutin dia hihihi :3

17 Februari 2017: 04.00 WIB

Beberapa bidan sudah keluar masuk ke ruangan dengan membawa peralatan yang dibawa dengan dorongan semacam trolley gitu.
Oke Bu telentang sekarang.

Telentang? Oh udah pembukaan 10 nih boleh telentang ini? Boleh ngeden dong? pikirku.

Ku mengejan sekuat-kuatnya seperti yang diajarkan saat senam hamil.

*Padahal baru sekali senam hamil, wkwkwk*

EAAAAAAAAAAKK!!!!! *suara bayi, bukan suara gue ngejan, apalagi suara penontonnya Bukan Empat Mata nya Tukul*

Eh? Suara bayi? Bayi kamar sebelah?

Suara bayi tersebut diiringi degan rasa sensasi plong seperti *maap* luruhan darah haid yang kelar banyak saat haid hari ke 2-3. Plong sekali.

*megang perut* *Sudah ga gembung*

“Eh udah mbak? Kan baru sekali ngejan? Alhamdulillah ya Allah,” suami ku yang bercucuran keringat dan air mata mencium kening ku dan berjalan ke arah bidan yang menggendong bayi menuju ruangan untuk membersihkan bayi dari lemak-lemak yang menempel di tubuhnya

*katanya sih itu lemak banyak gara-gara Ibu nya tidur melele selama hamil, jadinya banyak lemaknya. Hehehe entahlah*

“Ya Allah Masya Allah” berkali kali kuucapkan syukur sambil drama nangis pastinya.

Mama datang dari atas dan langsung  menangis dan memelukku.

Aku minta maaf ke Mama sejadi-jadinya setelah merasakan perjuangan melahirkan sebegitu dahsyatnya hingga 4 kali bahkan. Pantas saja surga di telapak kaki Ibu :’)

Beberapa menit kemudian, dokter baru datang karena baru selesai menjalani SC Cito.

Kemudian datang bidan menggendong seorang bayi putih bersih mungil dengan matanya yang sudah terbuka lebar :’)
“Ini Bu bayinya, IMD dulu yaaa”

Bayi mungil yang sudah di dalam rahim selama 37 minggu 6 hari dengan berat 2530 gr (huhuhu untung sempet ngejar angka 2500 gr ya Allah T_T) dan baru dilahirkan ke dunia itu diletakkan ke dada ku untuk IMD. Ayahnya tepat di samping Ibunya dan memotret wajah nya untuk pertama kalinya. Berkali kali ku menciumi nya sambil bersyukur.

 
Dokter pun mengajak ku berbicara sambil melakukan pembiusan serta penjahitan, bersama para bidan-bidan. Berkali-kali aku minta maaf kepada para bidan yang super sabar itu. Mama sibuk menelepon mengabari Papa dan sanak saudara.

 

“Berapa jahitan, Dok?” Tanya mama.

“Yah tenang aja pokoknya Grade 2 ko J” Jawab dokter sambil menjahit.

Bahagia. Plong. Tak terasa sakit sedikit pun!

Benar apa yang disampaikan orang-orang yang sudah melahirkan!

Saat bayi sudah keluar, lupa seluruh rasa sakit yang dirasakan sekian jam-jam itu!

Selang 15-30 menit *kalau tidak salah*
“Sudah ya Bu bayinya mau dibersihkan dulu ya Bu.” Ucap bidan sambil membawa bayi Khalid.

huhuhuhu.

Setelah itu aku dianjurkan untuk minum teh hangat dan istirahat sebelum pindah ke ruang rawat inap.

17 Februari 2017 : 08.00 WIB
Ku terbangun dan siap menuju ruang rawat inap.
“Udah bisa BAK, Bu?” tanya perawat yg datang setelah kutekan tombol d samping tempat tidur.
“Belum Mbak.” Jawabku.
“Ooh harus bisa BAK dulu ya bu setelah itu bisa pindah ke rawat inap.”
Deg. Kan. Ba. Ru. Di. Ja. Hit.
Akhirnya setelah perjuangan 2 jam ku bisa BAK.

17 Februari 2017 : 10.00 WIB

Apa, ayah mertua ku yang sedang berada di Yogja untuk menghadiri wisuda keponakannya, Bang Rinal, langsung menaiki kereta menuju Bogor, datang bersama Uda ke dalam ruangan. Dan akhirnya ku pindah ke Ruang Rawat Inap menggunakan kursi roda.
Di ruang rawat inap, aku sekamar dengan seorang Ibu yang sudah memiliki 3 anak yang melaksanakan SC beberapa hari yang lalu.
Selang beberapa jam, bidan membawa box dorong bayi yang berisi Dedek bayi Khalid.
“IMD lagi ya Bu”
Aku IMD dibantu dengan bidan dan Mama.
Susah. Perih. Penuh peluh.
“Ma, ASI nya kok ga ada ya? Huhuhu”
“Ada mbak, jangan stress, santai aja. Bayi kan perlu pengenalan dulu.” Mama menenangkan.
“Mbak, bayiku belum dikasih susu formula kan?”
“Ooh engga Bu, jika kondisi Ibu dan bayi memungkinkan, kami akan selalu berusaha IMD dan ASI Eksklusif. ASI memang belum langsung keluar Bu makanya jangan stress.  Yg penting bayinya kenal dulu bagaimana cara ia dapat asi. Itu naluri bayinya kok Bu. Insya allah bisa, memang perlu waktu dan usaha. Yg penting dicoba aja terus juga nyerah ya Bu. Lagipula bayi masih punya cadangan makanan kok Bu sampai 3 hari, jadi walaupun belum keluar ASI ibu gapapa. Insya allah 2-3 hari keluar bu asal dicoba terus.”

Sekiranya begitu kesimpulan jawaban bidan atas segudang pertanyaanku yg sebagiannya bahkan hampir semuanya sudah pernah kubaca di buku dan hasil browsing.
Setelah itu, bidan izin untuk meninggalkan kami.
“Loh Mbak, bayinya ga dibawa?” kutanya polos.
“Ooh engga Bu. Ibu kan normal spontan ya? Kami Pro Rooming in Bu. Walaupun SC, asalkan kondisi Ibu dan bayi memungkinkan, kami akan Rooming in.”
Unch senangnyaa alhamdulillah~
Karena selama aku menunggui Mama dan sepupuku melahirkan di  salah satu rumah sakit swasta di bogor, bayi selalu ditempatkan di box bayi di suatu ruangan kaca yang terpisah dari sang Ibu. Jadi kalau mau liat bayinya, kami ke ruangan tersebut dan melihat dari box kaca bersama dengan puluhan bayi lainnya.
Setelah beberapa kali dan berusaha *hampir seharian full, kucoba hampir setiap jam…
Alhamdulillah berhasil! Walaupun ku meringis menahan perih, tapi alhamdulillah ya Allah Colostrum yang berharga itu keluar! Hhuhu ku menangis haru karena takut ASI ku tak keluar karena blm sempat, makan katuk, dan suplemen menyusui sebelum melahirkan. Walaupun dari Instagram, beberapa Buibuk, dan akun-akun laktasi telah menyampaikan bahwa semua wanita itu ada ASI nya kok! Jangan menyerah! Begitu singkatnya.
Btw colostrum itu bebeda dengan ASI.
Dan jangan kira colostrum itu keluar tanpa usaha. Setelah sekian jam pemirsah kami berjuang dan bergelut Colostrum yang hanya sekian tetes namun soooooooo precious itu keluar.

Ternyata RS UMMI ini Pro Normal, Pro Skin to Skin Contact, Pro ASI eksklusif, dan Pro Rooming In!

Alhamdulillah~ sebenarnya aku sudah tahu mengenai hal ini karena sudah baca di blog seseorang tentang pengalaman melahirkan di RS UMMI, namun aku belum percaya. Lagipula awalnya kan aku akan melahirkan di RSUD Kota Bogor, namun ruangannya full.
Dokter kandungan pun melakukan visit dokter pada siang hari dan dokter Spesialis anak visit pada sore hari.
“Bu, kalau anaknya kuning, langsung ke rumah sakit ya. Jangan ditunda. Banyakin minum ASI nya dan jemur matahari pagi setiap hari ya Bu, Pak. Bayi harus BAK dan BAB minimal sekali dalam 24 jam setelah lahir ya Pak Bu, nanti sering cek pampersnya” Pesan DSA *Dokter Spesialis Anak* kepada ku dan Uda.  
Khalid sudah BAB hari itu, namun belum BAK.
Saat malam dan dini hari, aku deg-degan nya minta ampun.
00.00     Belum ada tanda tanda BAK dari Khalid.
01.00     Belum ada juga.
02.00     Masih nihil *makin takut karena sudah mau jam 4.00 yang berarti 24 jam setelah lahir.
03.00     Alhamdulillah Khalid BAK cukup banyak pemirsah T_T terharuhuhuhu *brb bangunin suami saat itu*

 

Siang harinya di hari Sabtu, ku sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah ya Allah bahkan aku sudah bisa berjalan pelan tanpa kursi roda menuju kendaraan di lantai paling bawah ^^

Perjuangan pun dimulai… lagi ^^ *on the next post, Insya Allah*

Demikian cerita kelahiran anak pertama kami yang penuh dengan pembelajaran.

Bener-bener pembelajaran! Alhamdulillah ya Allah banyak banget hikmahnya.

Oh iya seiring dengan banyaknya pertanyaan saat menjenguk, nanti aku rangkum Tips beserta FAQ nya ya HAHAHAHA ala ala banget. Yaa itung-itung kan buat sharing biar ke depannya kamu *yang baca* ada bekal dan bloon bloon amat kaya aku :”)

Oiya selain Tips dan FAQ, bakal ada Cerita Khalid yang kedua. Ditunggu yaaa 😀

*Berasa punya banyak fans*

*Gapapa, positip tingking aja dulu kalau banyak fans :’)*

Alhamdulillahirabbil alamin, mohon maaf ya atas kekurangan, kesalahan, ketidak sopanan dari postingan ini hehe. Jika ada istilah atau arti yang salah mohon maklum yaa dan feel free to correct yaaa 😀
Ambil baiknya, buang buruknya. Karena kebaikan dan kebenaran itu datangnya dari Allah SWT dan keburukan datangnya dari ku sendiri, manusia yang penuh dengan kekhilafan.
Sorry for the long post ya 🙂
Makasih banyakkkkk ^^

 


Leave a Comment