logo-mini

Share

Kemandirian: Baby Walker? #GameLevel2 #Day10

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

Menyambung post sebelumnya, hari ini aku akan sharing kemandirian Khalid saat belajar berdiri.

“Waah anaknya Si A udah bisa naik turun tangga di usianya yang ke 9 bulan.”

“Ah anak saya udah bisa berdiri umur 6 bulan tuh”

“Anak saya udah bisa jalan loh umur 5 bulan”

“Anak saya berojol langsung berdiri dan jalan loh Bu!”

Okay, enough.

Alhamdulillah, our baby is perfect, genius, and healthy.

Jangan gunakan sepatu orang lain untuk mengukur kaki kita!

Pakai alat pengukur kaki!

Iya, maksudku jangan bandingin anak kita sama kita ketika kecil dulu atau sama adik kita ketika bayi dulu, atau anak sebelumnya! Jangan! Bandingin sesuai KPSP aja Buk, atau tanya langsung ke DSA atau bidan di Posyandu 🙂

Khalid sudah ku titah sejak berumur 6 bulan.

Eh apa sih namanya? Titah bukan ya? Yang berdiri sambil dipegangin.

Pro Kontra?

Pasti adalah~

Mak mak mana sih yang gapernah ada pro kontra sama buibuk sekitar kalau membicarakan masalah bayi? Hehe

ILMU

I’ve been doing many researches those say that is okay to “titah”-in baby since 6 months old.

I was forget the source, I’ll pin it here later.

Dan Alhamdulillah melalui beberapa stimulus, Khalid bisa berdiri!

Awalnya 1 detik, lama-lama udah bisa 5-6 detik Alhamdulillah :’)

“Pakaiin Baby Walker deh, biar enak dia jalannya.”

Setelah mencari beberapa penelitian, dan di buku Yes Your Baby Is Genius pun dijelaskan bahwa we don’t even need a baby walker to teach our baby to walk. No.

It’s dangerous.

I was forget the source, I’ll pin it here later. And yes, there are valid sources.

 1. Karena bisa jadi bayi jalan dengan baby walker ke sana kemari, nubrukin barang di meja dan kemudian barang di atas meja nya jatuh.

“Yeee yang penting naro barang nya hati-hati kali, Na”

Iya, beneeerrr sekali, tetapi, kita sebagai manusia suka khilaf kan naro barang di mana-mana, apalagi ini bayi loooh yang dijagain??! Mau nawar?! Lebih baik mencegah kalau aku. Jadi ini poin aku menolak baby walker.

2. Bayi bisa terjungkal di jalan menurun atau saat tersandung sesuatu.

Here’s another point. Udah banyak banget ya pengalaman ini. DAN kebanyakan baby walker digunakan supaya Ibu bisa melakukan pekerjaan rumah selagi anaknya duduk di Baby Walker. Dan kalau iya, Ibu jadi fokus ke kerjaannya kan? Ga fokus ke bayi, dan poin kedua ini sangat mungkin terjadi. No.

3. Kesalahan persepsi ‘berjalan’

Bayi salah persepsi saat berjalan dengan baby walker karena saat berjalan dengan baby walker, yang ditahan kuat adalah pantat dan tulang duduk, kaki dan betis yang seharusnya menjadi anggota tubuh yang menopang badan saat berdiri malah ‘diringkankan’. Correct me if Im wrong.

“Aaahhh anak saya pakai baby walker cepet kok umur 7 bulan udah bisa jalan.”

Iya, tapi resiko nya jauh lebih besar Bu dibanding manfaatnya.

Penelitian loh Bu, Penelitian sudah dilakukan :’)

4. Yaah kan saya ada kerjaan lain, supaya baby nya bisa diem gitu seneng sambil belajar jalan saya nya juga fokus menyelesaikan pekerjaan (entah pekerjaan ibu rumah tangga, usaha, atau kantoran)

Kalau menurutku, namanya juga bayi :’) Memang perlu dan harus selalu diperhatikan.

Masya Allah waktu kita membersamai buah hati sangat cepat loh, Buk.

*Sok sok an padahal baru punya bayi satu yang baru berumur 9 bulan*

Etapi bener loooh kaget aja rasanya udah mau 1 tahun lagi Masya Allah Alhamdulillah Tabarakallah :’)

Oke kembali ke bahasan. Namanya juga bayi ya memang peerluuuu sekali untuk diperhatikan. Alhamdulillah saat aku sedang ada keperluan, Khalid dijaga oleh Aba nya, atau Oma nya. Jujur, aku lebih mempercayakan ke orang dibanding ke alat. Namun ada kok saatnya aku sendirian di rumah dan aku ada pekerjaan lain, yasudah kutidurkan Khalidnya hingga tertidur, atau kugendong, atau kutaro di stroller sambil diajak ngerjain kerjaan aku hihihi~

Belajar jalan? Bisa dititah kok.

Biar bisa ditinggal? Bayi kok ditinggal….(?) Bisa juga kok digendong, pakai stroller, atau playmate, jumper, dll.

“Ah Ana mah kebanyakan ngomong! Gak valid! “

Iya apalah aku mamak muda gak pengalaman yang backgroundnya bukan dokter bukan bidan tapi buruh industri, yaudah ini aku kasih yang valid ya dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) :’)

Yuk di baca :’)

http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/penggunaan-baby-walker

Kembali lagi ke kemandirian, alhamdulillah akhirnya Allah menguatkan Khalid untuk bisa berdiri di usianya yang ke 9 menuju 10 bulan :’) Masya Allah Tabarakallah :’)

And again masya Allah sesuai dengan KPSP 🙂

Alhamdulillah demikaian sharing ku mengenai kemandirian Khalid dalam belajar berdiri.

Semoga bermanfaat ya!

Keep hamasah Buukkk!

Fii amanillah

Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh

 

 


Leave a Comment