logo-mini

Share

Komunikasi Produktif #GameLevel1 #Day1

Komunikasi Produktif #GameLevel1 #Day1


Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh!

Halo, mulai saat ini (insya Allah) aku bakal rajin banget posting di web!

Ga sekali dua kali selama setahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Kenapa?

Karena komitmen ku mengikuti Institut Ibu Profesional, di mana kelas Matrikulasi (Kelas Dasar) telah kuselesaikan beberapa bulan lalu dan lulus ke Kelas Bunda Sayang.
Di Kelas Bunda Sayang ini, tugasnya lebih menantang! Menerapkan materi dalam kehidupan nyata dan harus didokumentasikan! Baik via tulisan, gambar, video atau apa pun itu, kemudian dipublish kan.

Website ini menjadi sarana publikasi yang aku pilih. Sebenarnya bisa melalui sarana lain, tapi aku memilih website untuk merutinkan aku menulis di web yang sudah penuh debu dan sarang labah-labah ini.

#KOMUNIKASI PRODUKTIF #GAMELEVEL1 #DAY1

Seharusnya game dimulai tanggal 2 November, tetapi karena suatu dan lain hal, aku baru bisa memulainya tanggal 3 November. Dan hasilnya? GATOT alias Gagal Total.

Objek game ku kali ini adalah Suami ku hehehe objek game banget gaenak bahasanya hihihihi.
maafkan yaaaa :p

Maksudnya, di game komunikasi produktif ini, aku menjadikan suami ku sebagai objek komunikasi produktif dari materi yang telah dishare sebelumnya.

Intinya adalah, komunikasi produktif penting untuk membangun hubungan yang produktif juga! Ada banyak kaidah, tapi yg paling aku ingat adalah, ada yang namanya kaidah 7-38-55.

Apa tuh?

Kaidah di mana berdasarkan penelitian (Albert Mehrabian), di dalam suatu komunikasi, pemilihan kata-kata atau aspek verbal hanya akan memberikan dampak pada hasil komunikasi sebanyak 7%, komponen yang lebih besar dalam memberikan dampak pada hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%)!

Hmm untuk orang sepertiku yang sama sekali tidak memperhatikan pentingnya pemilihan kata-kata, intonasi, dan bahasa tubuh serta menganggap, “Gapapalah gaya ngomong gue sotoy atau sok sok an, yang penting kan isi kalimat gue, demi kebaikan”.

Hufff. silakan saja sih melakukan itu, tapi nantinya malah menjadi komunikasi unproduktif! Yang ada, objek komunikasi kita salah tangkap dan terjadi missed communication atau bahasa kita nya ‘miskom’.

Misal, kita mau memberi saran kepada objek komunikasi kita bahwa ada ular di depan kakinya. (mungkin udah sering deh readers denger ini)

“Eh gila lu! Ati ati woy, ada uler tuh depan kaki lu! Ati-ati dong! Masa uler segede gitu ga keliatan? Ga teliti banget sih?! Jalan tuh liat liat! Bahaya tau! Untung gue kasih tau!”

“Awas mbak ada ular di depan kaki, Mba! Mohon hati-hati ya, sebaiknya ga melamun dan tetap memperhatikan jalan, hati-hati ya Mbak”

Hehehe
Kira-kira reaksi orang yg diteriakin pakai kata-kata pertama gimana? Reaksi orang yg diberitau dengan kalimat kedua gimana?

Simple nya sih gitu ya. Teriakan itu intonasi yg sangat sangat tidak enak, melotot dengan muka masam adalah air muka yg sangat sangat tidak nyaman untuk dilihat. Apalagi kita dinasihatin sambil diteriakin, dan diberi muka masam? Bisa dibayangkan sendiri, komunikasi ga akan produktif! Informasi yang terserap hanya sedikit!

Kenapa?
Kalau menurutku karena objek komunikasi malah akan lebih fokus ke cara penyampainnya, yg malah kadang membuat sakit hati 🙂

“Yang penting niatnya baik kali, ya jangan baper lah. Masih untung dikasih tau!”

Niat belum cukup, aksi yg nyata dan santun sangat diperlukan agar niat tersampaikan dengan baik pula. Jika bisa menyampaikan secara baik-baik, kenapa harus mesem mesem sik? Hehehe

ITU TEORI nya. PRAKTIK nya, yuk dicoba!

Hari pertama, tanggal 3 November 2017.
Aku menjadikan suami ku sebagai objek pelatihan komunikasi ku. Aku melakukan komunikasi “yang biasa aku lakukan”.
Yang ga pakai pikir dulu, langsung jeplak aja, yang penting hati lega. Dan hasilnya?

Wah, sangat ga baik ya 😂

Bisa dibilang di hari pertama game ini aku tidak menjalankan game sama sekali ya malahan :’)

Suami makan hati banget, aku berpikir bahwa komunikasi yg penting tersampaikan, terserah dengan cara apapun, kan yang penting “demi kebaikan” dan aku “jauh lebih tau ttg ini itu, kan aku lebih ‘pengalaman’, jadi wajarlah ngasih tau ke suami hal hal yang belum dia tau’. Aku terbiasa dengan komunikasi seperti ini sebelumnya.

Dan duarrrrrrr, suami akhirnya mencapai batasnya dan diam dua juta bahasa. Tidak, suami ku yg biasa kupanggil Uda tidak marah mencak-mencak. Dia adalah orang tersabar dan terrasional dan termasuk akal dalam berkomunikasi dengan ku.

Yang kumaksud mencapai batasnya adalah ketika ia diam dua juta kata. Dan akhirnya Uda menasihatiku dengan Masya Allah cara yang sesuai sekali. Tanpa intonasi menggurui, tanpa bahasa tubuh yang menasihati, dan dengan pemilihan kata yang sangat baik.

Nah, malah kayanya Uda yang lagi main game nya. Hehehe, bukan bukan, Uda sudah lulus game nya jauh sebelum menikah denganku. Aku yg memang harus mengatur emosi dan cara komunikasi ini.

Alhamdulillah ketemu Institut Ibu Profesional yang secara rutin memberi materi sesuai kurikulum Ibu Profesional.

Materi yang disampaikan di Institut Ibu Profesional (IIP) ini sebenernya materi yg gaperlu dijadikan materi bagi kebanyakan orang. Materi nya terdiri dari materi materi kehidupan yang seharusnya sudah kita kuasai dengan mempelajari ilmu agama dengan baik dan benar, materi yg kita pelajari dari alam, dari pengasuhan, dll. Namun seringnya lingkungan membuat materi materi ini hilang, dikarenakan ‘keduniawian’. Dan IIP fokus kepada wanita sebagai Madrasah Utama untuk menguasai kembali ilmu dan materi ini dalam bentuk kurikulum, tugas, dll.

Ah ribet dong!

Iya, ketika ingin berbuat kebaikan emang ribet, ribet harus jaga sikap, ribet harus ngumpulin tugas, ribet deh! Iya, ribet soalnya kitanya udah rusak, kebanyakan salah, jadi pas mau berbuat dan berniat baik susaaaaah banget hehehe. Kita ya, aku juga maksudnya huhuhu

Ya, begitulah. Dengan ini saya sampaikan bahwa game day 1 Komunikasi Produktif ku gagal, hehehe. Alhamdulillah Allah menunjukan keberhasilan komunikasi profuktif ini kepada Uda. Masya Allah. Let’s be better tomorrow!

Wassalamualaykum warrahmatullahi wabarakatuh!

#Tantangan10hari
#LuthfianaSupangkat
#Level1
#KuliahBunSayIIP
#KomunikasiProduktif


Leave a Comment