logo-mini

Share

Wedding~

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirrabil alamin, telah dilangsungkan pernikahan antara kedua insan yang tak sempurna yang senantiasa berusaha mencapai ridho Allah SWT di hari Ahad, 5 Juni 2016, di bulan Sya’ban 1437 H.


Ya, alhamdulillah kami sudah menikah!

Bukan lagi seorang insan yang penuh dengan kegalauan, kerisauan hati seorang diri. Tapi akan mengarungi asam garam laut kehidupan dalam mempersiapkan maghligai rumah tangga yang Allah cintai demi masa depan dan keluarga yang Allah berkahi.

Bukan berarti aku tidak lagi galau dan tidak lagi risau. Hanya saja Allah memberikan teman hidup yang menemani bersama kala kegalauan dan kerisauan ini datang menerpa~

Sedikit cerita, sebenarnya ini semua masih serasa mimpi *padahal sdah lebih dari delapan bulan berjalan*

Rasanya baru beberapa bulan lalu pertama kali mata ini bertatapan di depan jalan menuju Masjid Al Bakrie saat ia dan teman-temannya selesai menjalankan solat Dzuhur dan aku *bersama teman-teman baruku* baru mau melaksanakan solat Dzuhur *hehe*. Ketika itu sedang diadakan gathering Mahasiswa Baru di wilayah Pasar Festival, Jakarta.

Rasanya baru kemarin senyumku berantakan saat pertama menyapa, “Aan, ya?”
Kini, ia sudah ada di sampingku… Menjadi imam hidupku, mengambil semua tanggung jawab yang sebelumnya ditanggung oleh ayahku tersayang dan tergagah.

Sekiranya dua minggu sebelum hari H, bertubi-tubi pertanyaan menghadang seiring dengan khitbah yang telah ia ungkapkan kepada Papa.

Banyak yang menanyakan perihal cara ia melamarku..

Perihal jenis cincin saat seserahan.. *sebelum akad*

Perihal seserahan *sebelum akad*

Perihal kemapanan, apa iya kalian udah kerja? Dapat uang dari mana?

Perihal masih muda dan keharusan mengejar karir terlebih dahulu daripada menikah

Perihal, apa yang membuat ku menjawab “Iya”

Dan berbagai perihal lainnya.

Tidak ada drama di mana dia berlutut manis memberikan bunga mawar di hadapanku sembari memberikan cincin pertanda pertanyaan, “Will you marry me?”

Tidak ada..

Hanya sebuah kalimat yang menanyakan keberadaan orang tuaku yang sedang di rumah atau tidak karena ia hendak menyampaikan sesuatu.

Gentle nya melebihi bunga mawar plus cincin yang dikasih sambil berlulut. Lebih, jauh lebih dari itu.

Seminggu kemudian calon Ayah mertua ku (kala itu) datang jauh dari Payakumbuh untuk menyampaikan kembali niat baik tersebut. Dan singkat cerita, akad ditetapkan tanggal 5 Juni 2016, H-5 minggu.
Belum ada cincin yang melingkar, karena khitbah adalah prosesi melamar yang pada hakikatnya adalah meminta izin atau meminang, bukan memberikan mahar.

Meskipun semua direncanakan dengan waktu yang begitu singkat, Allah Maha Besar, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, digerakanNyalah seluruh semesta untuk kebahagiaan pernikahan kedua insan tak sempurna ini.

Alasanku menerima pinangannya?

Hadist Rasulullah tentang tidak ada solusi terbaik selain menikah bagi dua insan yang saling mencintai atau berpuasa lah jika belum mampu.

Insya Allah karena Allah.

Perihal masih muda dan keharusan mengejar karir terlebih dahulu daripada menikah.

Aku setuju kok dengan pernyataan ini, namun jika sudah datang seorang lelaki yang baik agamanya kemudian meminang seorang wanita, haruslah diterima pinangan tersebut karena jika tidak , akan terjadi kerusakan serta fitnah yang amat besar di dunia ini.
Dua-duanya penting kok!
Inilah jawabanku atas beberapa pertanyaan perihal-perihal tersebut.

Saat itu keadaan hening, khidmat, dengan kamera-kamera riuh di depan wajah kami.

*Kamera hp kok hihihi*

Saat aku meminta izin kepada Papa, tidak ada setetes pun air mata yang kukeluarkan. Ya, tidak ada!

Saat akad disampaikan dan dinyatakan sah, tidak ada pula setetes air mata yang turun mengalir di pipi, begitu pun saat sungkeman.

Ada yang mengatakan aku tegar.
Ada yang mengatakan aku kok kaya ga punya perasaan.

Ada yang mengatakan ini itu dan sebagainya.

Aku menahan begitu dahsyatnya saat hari H sehingga itu semua tumpah di hari sebelum dan sesudah acara. Pagi siang malam aku berdoa Ya Allah jangan buat aku menangis saat hari hari pengajian, saat prosesi akad ya Allah.

Dan Hasbunallah wa nikmal wakiil,

Allah mengabulkannya. Allah Sang Maha Pencipta sangat pengertian dan mengetahui betul bahwa aku tidak bisa menangis ‘sedikit’. Dibuatnya kutak menangis saat pengajian dan saat akad.

Namun dihabiskanNyalah air mata itu sesudah acara selesai :”)

Aku tak menangis, bukan berarti aku tak merasakan sensasi apapun.

Setelah akad nikah diucapkan, setelah menikmati detik demi detik penuh doa dan walimah, ada yang mengharu biru di hati kita. Di sinilah sensasi itu begitu dahsyat. Dahsyat karena seseungguhnya para malaikat datang menyaksikan betapa besar dan beratnya perjanjian itu hingga terguncanglah Arsy seiring dengan pengucapan akad yang merupakan perjanjian besar itu dilaksanakan. Al Qur’an menyebutnya miitsaqaaqan ghaliizhaa, frasa yang hanya tiga kali muncul dalam redaksi 30 juz.

Sensasi itu menghadirkan perwujudan menakjubkan. Bahwa dua miitsaqaaqan ghaliizhaa yang lain adalah perjanjian besar Allah dengan Bani Israil sampaisampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka dan juga perjanjian agung antara Allah dan rasul-rasul Nya.

(QS An Nisa: 21)

Akad dan walimah yang sederhana namun lekat di hati.

Kini ku memiliki empat malaikat bersayap.

Ku memiliki satu imam tangguh, yang menuntunku menuju Ridho nya Allah.

Terima kasih sahabat seperjuangan yang begitu dahsyatnya menemani perjuangan kami hingga di jenjang pernikahan.

Terima kasih. Terima kasih.

Mohon restu dan doa agar senantiasa kami membentuk rumah tangga yang barakah kepada kami, rumah tangga yang barakah atas kami.

Bahwa di saat apa pun barakah itu membawa kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad.

Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apa pun masalah yang sedang membadai rumah tangga kita.

Barakah itu membawa senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lebit di saat dada kita sesak oleh salah (Salim . A. Fillah, 2011)

Maaf terbesar kami sampaikan pada teman-teman seperjuangan yang tidak ada angin tidak ada hujan pun tak ada undangan dan kabar tidak kami sampaikan mengenai hari bahagia tersebut. Maklum, niat kami adalah mengadakan akad di rumah di mana mayoritas adalah saudara dan keluarga besar. Sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya. Doa terbaik sebaik-baiknya kami sampaikan kepada kalian teman-teman kami yang kami cintai. We really really do love you <3

Mohon doa nya untuk buah hati tercinta yang saat ini berumur +34 menuju 35 minggu yang kini berada di alam rahim. Semoga senantiasa menjadi anak yang soleh, hafidz, pejuang Islam, pembahagia hati dan penyejahtera ummat aamiin ya robbal alamin 🙂

Hey kamu yang sedang membaca blog ini, percayalah Allah yang menuntunmu menuju tulisan ini.

Semoga senantiasa sehat jasmani rohani, tentram, damai, sukses akhirat dan dunia serta dipertemukan, dilamar oleh jodoh dunia akhirat sesuai di waktunya aamiin ya robbal alamin 🙂

Semoga bermanfaat! Happy reading! Happy watching!


Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh 🙂

Leave a Comment